RSS

Tag Archives: fiction

Hati dan logika

Seperti inikah rasanya menjadi yang kedua?
Logika berteriak tidak mau jadi yang kedua.
Tapi hati berkompromi atas nama cinta.

Saat kau memegang tanganku, apakah yang dipikiranmu hanya aku?
Saat kau memeluk pinggangku, apakah kau yakin yang kau peluk itu aku?

Aku mampu memberikan apa yang kau butuhkan.
Aku sanggup memberikan seluruh hati ini untukmu.
Tak bisakah kau hanya buatku?

Kau bilang sayang.
Kau bilang peduli.
Kau bilang aku segalanya untukmu.
Tapi kenapa kau masih bersama dia?
Tidak cukupkah jika hanya aku?

Ingin rasanya melepaskan diri darimu.
Ingin rasanya berlari meninggalkanmu.
Ingin rasanya pergi tanpa harus menoleh lagi ke arahmu.

Tapi hati memilih untuk diam disini.
Hati rela merasa sakit hanya untuk bisa bersamamu.

Dasar bodoh!!!
Teriakan di kepala tak sanggup mengalahkan keinginan hati.

Aku tahu ini salah.
Aku tahu ini hanya akan menyakiti hati.
Tapi, biarlah aku mengecap kebahagiaan semu ini.
Karena saat ini, aku hanya ingin kamu.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2013 in Uncategorized

 

Tags: ,

Apa itu salah?

Hari ini cukup melelahkan buat gue. Hari ini full off meeting, meeting, dan meeting. Malam ini untuk melepaskan sedikit kepenatan di kepala gue, gue memutuskan untuk keluar makan malam dengan teman-teman gue di kantor gue terdahulu.

Gue baru aja pindah ke perusahaan tempat gue bekerja saat ini. Baru sekitar 6 bulan lah gue bekerja disini. Biarpun sudah 6 bulan gue di tempat baru, tapi gue masih tetep keep on contact sama teman-teman gue dikantor yang lama. Dan malam ini kami pun janjian ketemuan untuk dinner bareng. Memang letak kantor gue yang lama dengan kantor gue yang baru tidak berjauhan, jadi kami gampang untuk janji ketemuan.

“Gimana kerjaan lo disana Ren, lancar?”

So far masih ok lah…”

“Ada yang ganteng and qualified untuk dijadiin suami gak Ren dikantor lo?”

“Haiyyahh… lo tu ya, ngebet banget sih nyari calon suami?”

“Lah emang lo gak Ren?”
“Ya bukannya gitu, tapi gak segitu HOT-nya kali.”

“Ach… lo mah emang gak jelas Ren, sebenernya lo masih suka sama makhluk yang berjenis kelamin cowok gak sih?”

“Kurang ajar lo, gue masih normal tauk. Pasti lah gue suka sama cowok. Cuma gue gak mau terlalu maksain diri aja.”

“Alessan!! Bilang aja emang lo takut patah hati kan?”

“terserah lo lo pada aja deh”

Entah kenapa malam ini teman-teman gue pada rese’ nanyain masalah cowok. Mulai dari cowok model apa yang gue suka, suka body cowok yang seperti apa, sifat cowok yang gue suka itu yang seperti apa, dan masih buanyak lagi pertanyaan lainnya. Sebenernya apa sih tujuan mereka? Emang sih, diantara teman-teman gue itu, hanya gue yang masih jomblo. Yang lain udah pada married or paling gak udah punya pacar lah. Mungkin teman-teman gue ngeliat bahwa gue cuek untuk urusan ini. Tapi sebenernya, gue juga mikirin masalah ini lah pastinya. Tapi kalau memang gue belum diizinkan sama yang Diatas untuk ngedapetin jodoh gue, gue bisa apa? There’s nothing I can do, right?

Gak sedikit teman-teman yang bilang alasan gue belum punya pasangan sampai detik ini adalah karena gue menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk seorang cowok untuk bisa masuk ke dalam kehidupan gue. Padahal gue sendiri pun gak pernah ngerasa kalau gue mempunyai standar dan kriteria khusus untuk menetapkan calon pasangan hidup gue. Gue juga cukup tahu diri lah dengan modal yang gue miliki. Gue ngerasa bahwa gue nggak pernah kok netepin suatu standar khusus untuk menemukan pasangan hidup gue. Gimana gue bisa netepin standar, wong gue ngerasa nilai jual gue juga gak tinggi-tinggi amat kok.

Tapi, setiap gue menyampaikan hal ini ke teman-teman gue, mereka sering bilang:

“Jangan underestimate sama diri lo kenapa sih Ren.”

“Lo jangan hopeless gitu donk ach.”

“Kenapa lo jadi gak PD-an gitu sih?”

Sebenernya gue bukannya gak PD. Tapi mungkin gue hanya melakukan tindakan preventive untuk mencegah rasa sakit di hati gue. Karena gue ngerasa nilai jual yang ada didiri gue gak tinggi, gue takut kalau makhluk bernama “pria” itu gak akan memilih gue untuk dijadikan sebagai pasangan hidup mereka. So, gue mendingan mengontrol diri gue untuk untuk jangan memiliki perasaan yang terlalu mendalam terhadap seorang pria. Apa itu salah?

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2011 in Uncategorized

 

Tags: