RSS

Tag Archives: cerpen

Suara Dari Masa Lalu 2

Lanjutan dari kisah sebelumnya

Aku termangu di depan sebuah rumah besar dengan pagar besi berwarna putih. Jantungku berdegup kencang, sial, seperti itulah ketika dulu pertama kali aku datang ke rumah ini. Dengan sedikit gemetar aku pun menekan tombol bel yang ada di balik pagar. Kriiiinggg!!! Tak berapa lama muncullah wanita setengah baya dengan menggunakan daster rumahan. Sepertinya dia adalah pembantu barunya.

“Ada apa, Pak?” tanyanya dari balik pagar.

“Mmm, Dhea-nya ada, Bik?” sekali lagi sial! Setua itukah diriku sampai harus dipanggil ‘Pak’?

“Oh, ada. Non Dhea ada. Maaf, Bapak ini siapa ya?” tanyanya setengah menyelidik. Aku pun maklum mengingat modus operandi kejahatan saat ini mulai bermacam-macam.

“Saya temannya Dhea, tadi udah janjian kok.” jawabku meyakinkan.

Tiba-tiba dari dalam terdengar sesorang berseru, dan suaranya sangat aku kenal. Suara yang begitu familiar di telingaku. “Siapa itu, Bik?”

“Ini Non, katanya temannya non Dhea dan katanya juga udah janjian.”

“Suruh masuk aja, Bik.”

“Baik, Non.” Akhirnya si bibik membuka pintu pagar dan mempersilahkan aku masuk.

Saat aku masuk, kulihat sudah ada seseorang yang berdiri di teras. Ah, dia masih seperti dulu. Rambutnya yang lurus dan panjang dia ikat kebelakang dengan sederhana namun tetap membuat hati ini berdebar. Wajahnya yang ayu dengan senyum nan manis masih memancarkan pesona itu. Aku pun mulai kikuk dibuatnya. “Ayo Kak, masuk dulu.” suaranya memecah kebengonganku.

“Eh, iya.” jawabku singkat. Aku pun segera menyerahkan bingkisan yang sudah kusiapkan untuk oleh-oleh. “Ini sedikit oleh-oleh dari Jakarta”

“Wah makasih banyak ya, Kak. Ayo silahkan duduk dulu ya, Kak.” kami pun memasuki ruang tamu. Dia masuk ke dalam untuk meletakkan bingkisan dariku di ruang tengah. Hmm, rumah ini tidak banyak berubah. Di dinding kulihat banyak sekali foto yang terpajang. Yang menarik perhatianku adalah foto dia dengan seorang anak kecil. Apakah itu anaknya? Tapi mengapa aku tidak melihat foto dia dengan seorang laki-laki yang mungkin suaminya?

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , ,

Suara Dari Masa Lalu 1

Kutatap birunya laut dan kuhirup udara yang anyir ini dalam-dalam. Berbagai hal berkecamuk di alam pikirku. Saat ini aku akan pulang ke kampung halamanku, tapi entah mengapa seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Selain rasa rindu pada ayah dan ibuku, ada hal lain yang selalu menghantuiku. Ya, sesuatu dari masa lalu.

Sudah hampir 5 tahun aku tidak pulang karena harus merantau ke ibu kota. Rasa rinduku terhadap keluargaku di tanah kelahiran sudah tak terbendung lagi. Aku bahkan sudah tidak bisa membayangkan bagaimana wajah si Hamzah adikku yang saat aku berangkat dulu masih ada dalam gendongan ibuku. Lalu, bagaimana ya ayah sekarang, apakah beliau masih segagah dan setegap dulu? Beliau adalah seorang mandor di sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit. Badannya yang tegap sangat mendudung dalam pekerjaannya. Beliau termasuk orang yang disegani oleh orang-orang di kampung kami. Sedangkan ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali membuat jajanan untuk kemudian dititipkan di warung-warung terdekat.

Di kejauhan kulihat mulai tampak ada bayangan hitam, ah daratan. Berarti sebentar lagi aku sampai. Meskipun dari pelabuhan menuju rumahku masih menempuh perjalanan selama 4 jam lagi, namun rasanya aku sudah dekat sekali dengan rumah. Kuambil handphone dari saku celanaku lalu kucari sebuah nama, ya, nama dari masa lalu. Sebenarnya aku ingin menelepon, namun akhirnya niat itu kuurungkan. Akhirnya aku hanya mengirim sms:

“De, hari ini aku pulang. Sebentar lagi aku sudah sampai pelabuhan.”

Kutunggu 5 menit, 10 menit, ah tak kunjung ada balasan. Yah, mungkin dia sedang sibuk, karena terakhir kudengar kabar bahwa dia telah bekerja di sebuah Puskesmas dan menjadi seorang perawat. Atau jangan-jangan dia telah lupa padaku. Mungkin aku berharap terlalu banyak.

Teeeetttttt!!!! Suara klakson kapal tanda sudah bersandar mengagetkanku dari lamunan. Orang-orang pun sudah berdesak-desakan ingin segera keluar. Tak lama berselang dari pintu-pintu kapal mereka berhamburan keluar. Bah, macam orang yang sedang muntah saja kapal itu. Aku memilih bersantai dulu, menunggu suasana agak lengang, karena di antara orang-orang yang sedang berdesak-desakan itu terkadang ada pihak yang berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu pencopet.

Turun dari kapal aku pun segera berjalan ke terminal bus dan segera naik bus yang menuju ke arah kampung halamanku. Ah, sudah semakin dekat saja aku dengan rumah.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, sampailah aku di mulut gang rumahku. Lalu dengan pasti kuayunkan langkahku menuju rumahku, rumah tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja sekarang rumah mungil itu tampak lebih bersih. Dan masih dikelilingi oleh pohon akasia yang sengaja ditanam oleh ayahku sebagai penyejuk. Tampak di depan rumah seorang anak kecil sedang asyik bermain mobil-mobilan kayu.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , ,

Seandainya waktu itu…

Lima tahun yang lalu.

“Kayanya kita cukup sampe di sini aja, Mas.” kataku sore itu di depan kampus.

“Tapi apa salahku? Kayanya aku gak pernah berbuat salah. Please, aku butuh penjelasan. Jangan cuma sepihak gini dong.” protesmu.

“Gak ada yang salah, Mas. Aku hanya merasa ini semua harus berakhir. Semoga masing-masing dari kita mendapatkan yang terbaik.” kataku sok bijaksana.

“Baiklah jika itu maumu, Eva. Tapi ingat, aku menerima keputusan ini bukan karena aku lemah dan tidak mau mempertahankan hubungan ini. Tapi aku menerima ini karena aku sayang kamu dan sangat menghormati keinginanmu. Dan dari detik ini sampai entah sampai kapan aku akan selalu menyayangimu.” kata-katamu begitu mantab, bijaksana, dan menenangkan seperti biasanya. Tapi kali ini aku harus bertahan, tidak boleh tergoda lagi. Keputusanku kali ini sudah bulat dan wajah tampan nan teduh itu tak boleh menggoyahkanku.

“Dan kuharap meskipun hubungan ini sudah berakhir kau tidak akan membenciku. Karena walau bagaimanapun kau adalah seseorang yang pernah mengisi hidupku.” kataku pelan.

“Justru baru saja aku ingin meminta hal yang serupa. Maafkan jika selama ini aku telah banyak menyusahkanmu. Dan semoga kau mendapatkan yang terbaik.” jawabmu masih dengan wajah yang tenang namun tak dapat menyembunyikan kegalauan yang sedang kau hadapi.

“Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan dan berikan selama ini, Mas. Ya, aku juga berharap semoga kau mendapatkan yang terbaik” suaraku sedikit bergetar karena berusaha untuk tetap tegar meskipun jauh di dalam hatiku luruh tak bertumpu pada sesuatu apa pun.

“Bolehkah aku mengantarmu pulang, paling tidak untuk kali ini saja?” kau memohon.

“Gak, Mas. Maaf aku nanti sudah dijemput sama Omku. Terima kasih atas tawaranmu, tapi sekali lagi tidak.” aku tak berani memandangmu waktu itu apalagi menerima tawaranmu karena aku takut keputusanku ini akan berubah lagi. Maafkan aku karena tidak jujur padamu, meskipun sebenarnya aku masih sayang padamu. Semua ini terpaksa kulakukan karena rasa sayangku kepada orang tuaku meskipun harus mengorbankan dan menghancurkan hati dan perasaanku. Karena jasa mereka lah aku bisa seperti ini, hampir menjadi seorang sarjana.

Rencana pernikahanku dengan Om Wisnu sudah tidak dapat ditunda apalagi dibatalkan. Keluarga kami sangat berhutang budi pada beliau. Ini semua tentang menjaga wibawa  dan membayar hutang budi keluarga. Bisnis ayah yang hampir bangkrut itu tertolong oleh bantuan modal yang diberikan Om Wisnu. Dari situlah ayah merasa sangat berhutang budi kepada Om Wisnu, dan akulah yang beliau gunakan untuk membayar hutang itu. Aku sendiri tidak menyalahkan ayahku, karena aku berhasil kuliah juga karena hasil dari bisnis ayahku yang akhirnya kembali meroket. Om Wisnu sendiri belum terlalu tua, karena baru seusia Om Ardly, adik ayah yang paling bungsu, sekitar 35 tahunan. Tapi buat aku yang masih kuliah, tentunya jarak kami menjadi cukup jauh, terpaut lebih dari 10 tahun.

“Jaga dirimu dan jika kamu berubah pikiran, aku masih akan tetap ada di sekitarmu.”

“Aku rasa tidak akan berubah, Mas. Maaf, sekali lagi maafkan aku.” kali ini aku tak kuasa menahan cairan bening di sudut mataku yang mulai jatuh bergulir di atas pipiku. Akhirnya aku berlari, kutinggalkan dia yang masih berdiri termangu di sana. Aku tak peduli beberapa mata memandangku dengan penuh penasaran. Di kejauhan kulihat Om Ardly sudah berdiri di pintu gerbang kampus. segera kuhapus air mata dan kusunggingkan senyum meskipun agak terpaksa.

Hari ini. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on October 17, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , , , , , ,

Weird Morning

Pagi ini tidak ada yang spesial, kujalani rutinitas seperti biasa. Lokasi rumah yang berada di pinggiran ibu kota memaksaku untuk selalu berangkat lebih pagi, dan harus berjibaku dengan lalu lintas metropolitan yang semakin tidak karuan. Dari rumah naik shuttle bus menuju ke kawasan Sudirman untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan TransJakarta, yang katanya merupakan mass rapid transport paling paporit di sini. Katanya menjanjikan kenyamanan, tapi nyatanya kakiku sering pegal-pegal karena terlalu banyak berdiri. Selain itu menjanjikan keamanan, tapi nyatanya ada saja orang yang HP atau BB nya hilang plus kalau ada wanita cantik nan seksi bisa sekalian digerayang-gerayang.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dan diselingi rasa kantuk sampai kepalaku terantuk-antuk ke kaca jendela bus yang sedikit buluk, akhirnya tiba juga waktuku untuk turun. Masih dengan nyawa yang belum terkumpul semua, aku berjalan menyusuri jembatan penyeberangan menuju halte TransJakarta yang berada di tengah-tengah separator jalan.

Di kota besar seperti Jakarta ini, tampak orang-orang selalu terburu-buru seolah dikejar waktu. Waktu sehari semalam selama 24 jam ini rasanya tidak cukup untuk melaksanakan aktivitas mereka. Lalu mau minta sehari berapa jam sih, supaya mereka dapat menyelesaikan pekerjaan plus beristirahat? Seperti yang kualami sehari-hari, perjalanan yang kutempuh ke tempat kerja saja sudah sangat menyita waktu. Belum lagi sampai di kantor dihadapkan pada berbagai masalah yang tak kunjung usai. Grrrhhh… ingin rasanya aku berhenti sejenak, dan beristirahat seraya memandang orang-orang yang sedang berlari seolah dikejar waktu. Tapi bukankah jika seperti itu artinya waktu berhenti? Paling tidak buatku, dan itu artinya… MATI!!! Hiii… ngeri deh membayangkannya.

BRUK!!! Ketika aku berjalan di jembatan penyeberangan, tiba-tiba aku ditabrak oleh seseorang. Ditabrak, ya aku ditabrak, karena saat aku berjalan aku masih memakai kedua mataku untuk melihat jalan dan itu artinya bukan aku yang menabrak. Spontan aku setengah berteriak kepada orang itu, yang sepertinya seorang pria separuh baya, dengan rambut yang sudah mulai memutih, “Hati-hati kalau jalan, Pak! Liat-liat di depannya ada orang atau tidak!”

“I.. Iya… maaf mas, saya gak sengaja.” jawabnya singkat.

Tapi dasar Jakarta, sebuah kota yang keras sehingga menuntut penghuninya untuk selalu waspada karena bahaya akan selalu mengancam di mana saja, bahkan tanpa pandang bulu dan tidak mengenal toleransi. Laki-laki itu pun melanjutkan langkahnya, sementara aku secara insting langsung memeriksa kantong dan tempat HP serta tasku. Dan JRENG!!!! Dompetku sudah tidak ada di tempatnya lagi. Pikiranku langsung tertuju pada laki-laki separuh baya tadi. Pasti dia pencopet. Adrenalinku langsung memuncak, kupikir dia pasti belum jauh. Langsung aku berlari ke arah dia pergi, dan benar saja aku masih bisa melihatnya.

Lima langkah… tiga langkah… satu langkah dan aku langsung menerjang pria itu. Aku memang sengaja tidak berteriak copet, karena khawatir dia nanti malah keburu lari. Alhasil kakiku berhasil mendarat di punggungnya, dan dia pun jatuh tersungkur. Belum sempat dia bicara, langsung kulayangkan sebuah bogem mentah ke arah mulutnya. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Belum puas, kusodok ulu hatinya dengan lututku. Dan terakhir kubenturkan kepalanya ke besi jeruji pembatas jembatan. kini, darah segar kembali meleleh dari pelipisnya.

“Hei, kamu pencopet ya?! Mana dompetku, ayo kembalikan!!!” teriakku seperti orang kesetanan. Aku tak peduli orang-orang yang lewat jembatan semua memandangiku.

“D..d..dompet apa, mas? Saya nggak tahu.” jawabnya terbata-bata.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on December 18, 2011 in Cerpen, Fiksi

 

Tags: , , , , ,

Sekeping Asa Yang tersisa (1)

“Hei Raka, PR matematika kemarin sudah selesai belum?” Roni bertanya sampai mengagetkan lamunanku. Belum sempat kumenjawab dia sudah mengoceh lagi, “Hei boss, pagi-pagi sudah melamun, cepat tua kau nanti!” katanya sok tahu.

“Siapa juga yang melamun, orang lagi mikir, kok.” jawabku membela diri.

“Mikir apa sih, Ka? Kaya orang tua aja lu.”

“Yah, banyak lah Ron. Misal, kemana aku setelah lulus SMU ini nanti, apakah aku bisa nerusin kuliah atau memilih bekerja saja, sambil membantu orang tuaku.” jawabku pura-pura serius.

“Eh busyet deh!!! Kita baru aja naik kelas 2, Ka. Masuk juga baru dapet seminggu, eh elu malah mikirin mo kuliah kemana. Itu mah entar aja deh, waktu kita udah duduk di kelas 3.” Roni kelihatan malas kalau aku sudah mulai berbicara yang serius. Yah, memang dia berasal dari keluarga mampu. Ayahnya seorang pejabat di sebuah bank swasta. Dia selalu terbiasa dengan hidupnya yang enak, semuanya serba tercukupi, seolah dia tidak perlu lagi berpikir untuk kelangsungan hidup untuk 7 turunannya kelak. Namun, di balik semua itu, dia tidak pernah sombong, di sekolah dia juga bersikap sewajarnya, tidak pernah memperlihatkan bahwa dia dari keluarga yang berada. Dia pun mau bergaul dengan semua orang, termasuk dengan orang yang kurang mampu, seperti aku.

Aku dan Roni seperti yin dan yang, seperti kutub utara dan kutub selatan magnet. Dia dari keluarga berada, sedangkan aku dari keluarga yang, yah, biasa-biasa saja. Ayahku menjadi buruh bangunan dan biasa ikut proyek kemana-mana, dan ibuku biasa membuat kue untuk kemudian dijual ke terminal. Jika sepulang sekolah tidak ada kegiatan, biasanya aku pun ikut membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di sebuah rumah makan. Meskipun status sosial kami sangat berbeda, namun aku dan Roni berteman sangat akrab. Di sekolah kami sering tergabung dalam satu kegiatan yang sama misalnya bulu tangkis dan KIR (kelompok Ilmiah Remaja). Terkadang teman-teman yang lain penasaran, kok aku bisa berteman dekat dengan Roni yang berasal dari keluarga high class. Aku pun tidak tahu jawabnya, sejak kami sama-sama masuk di SMU ini, kami memang langsung merasa cocok dan kompak satu sama lain.

Di saat tertentu, muncul juga sifat-sifat manja dan mau gampangnya saja dari Roni. Contohnya pagi ini, ketika dia malas mengerjakan PR matematika, maka dengan entengnya dia pinjam PR ku untuk disalin. Dia memang tidak suka pelajaran berhitung melainkan lebih suka pelajaran yang berhubungan dengan alam, seperti Biologi. Dia ingin menjadi dokter, katanya.

“Itu cuma salah satunya aja, Ron. Aku masih punya masalah lain yang tidak kalah penting.”

“Apa lagi sih, Ka? Kayanya papaku aja gak sepusing elu gitu deh?”

“Emang apa hubungannya dengan papamu, Ron?” tanyaku heran.

“Ya iyalah, beliau itu kan punya tanggung jawab yang besar, tiap hari yang dilihat cuma angka melulu. Tapi ketika di rumah tetep santai. Gak kaya elu, Ka. Pagi-pagi udah ngelamun terus omongannya kejauhan lagi.”

“Tapi kamu mau tahu masalahku yang lain gak? Aku yakin kamu pasti tertarik.” aku memancing Roni agar dia penasaran.

“Memangnya apa sih? Buruan kalo mau cerita, aku belum selesai nyalin nih.” dia menjawab sambil tangannya sibuk menari menyalin PR.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on April 21, 2011 in Fiksi

 

Tags: ,