RSS

Tag Archives: bali

Seandainya waktu itu…

Lima tahun yang lalu.

“Kayanya kita cukup sampe di sini aja, Mas.” kataku sore itu di depan kampus.

“Tapi apa salahku? Kayanya aku gak pernah berbuat salah. Please, aku butuh penjelasan. Jangan cuma sepihak gini dong.” protesmu.

“Gak ada yang salah, Mas. Aku hanya merasa ini semua harus berakhir. Semoga masing-masing dari kita mendapatkan yang terbaik.” kataku sok bijaksana.

“Baiklah jika itu maumu, Eva. Tapi ingat, aku menerima keputusan ini bukan karena aku lemah dan tidak mau mempertahankan hubungan ini. Tapi aku menerima ini karena aku sayang kamu dan sangat menghormati keinginanmu. Dan dari detik ini sampai entah sampai kapan aku akan selalu menyayangimu.” kata-katamu begitu mantab, bijaksana, dan menenangkan seperti biasanya. Tapi kali ini aku harus bertahan, tidak boleh tergoda lagi. Keputusanku kali ini sudah bulat dan wajah tampan nan teduh itu tak boleh menggoyahkanku.

“Dan kuharap meskipun hubungan ini sudah berakhir kau tidak akan membenciku. Karena walau bagaimanapun kau adalah seseorang yang pernah mengisi hidupku.” kataku pelan.

“Justru baru saja aku ingin meminta hal yang serupa. Maafkan jika selama ini aku telah banyak menyusahkanmu. Dan semoga kau mendapatkan yang terbaik.” jawabmu masih dengan wajah yang tenang namun tak dapat menyembunyikan kegalauan yang sedang kau hadapi.

“Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan dan berikan selama ini, Mas. Ya, aku juga berharap semoga kau mendapatkan yang terbaik” suaraku sedikit bergetar karena berusaha untuk tetap tegar meskipun jauh di dalam hatiku luruh tak bertumpu pada sesuatu apa pun.

“Bolehkah aku mengantarmu pulang, paling tidak untuk kali ini saja?” kau memohon.

“Gak, Mas. Maaf aku nanti sudah dijemput sama Omku. Terima kasih atas tawaranmu, tapi sekali lagi tidak.” aku tak berani memandangmu waktu itu apalagi menerima tawaranmu karena aku takut keputusanku ini akan berubah lagi. Maafkan aku karena tidak jujur padamu, meskipun sebenarnya aku masih sayang padamu. Semua ini terpaksa kulakukan karena rasa sayangku kepada orang tuaku meskipun harus mengorbankan dan menghancurkan hati dan perasaanku. Karena jasa mereka lah aku bisa seperti ini, hampir menjadi seorang sarjana.

Rencana pernikahanku dengan Om Wisnu sudah tidak dapat ditunda apalagi dibatalkan. Keluarga kami sangat berhutang budi pada beliau. Ini semua tentang menjaga wibawa  dan membayar hutang budi keluarga. Bisnis ayah yang hampir bangkrut itu tertolong oleh bantuan modal yang diberikan Om Wisnu. Dari situlah ayah merasa sangat berhutang budi kepada Om Wisnu, dan akulah yang beliau gunakan untuk membayar hutang itu. Aku sendiri tidak menyalahkan ayahku, karena aku berhasil kuliah juga karena hasil dari bisnis ayahku yang akhirnya kembali meroket. Om Wisnu sendiri belum terlalu tua, karena baru seusia Om Ardly, adik ayah yang paling bungsu, sekitar 35 tahunan. Tapi buat aku yang masih kuliah, tentunya jarak kami menjadi cukup jauh, terpaut lebih dari 10 tahun.

“Jaga dirimu dan jika kamu berubah pikiran, aku masih akan tetap ada di sekitarmu.”

“Aku rasa tidak akan berubah, Mas. Maaf, sekali lagi maafkan aku.” kali ini aku tak kuasa menahan cairan bening di sudut mataku yang mulai jatuh bergulir di atas pipiku. Akhirnya aku berlari, kutinggalkan dia yang masih berdiri termangu di sana. Aku tak peduli beberapa mata memandangku dengan penuh penasaran. Di kejauhan kulihat Om Ardly sudah berdiri di pintu gerbang kampus. segera kuhapus air mata dan kusunggingkan senyum meskipun agak terpaksa.

Hari ini. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on October 17, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , , , , , ,