RSS

Category Archives: Uncategorized

Hati dan logika

Seperti inikah rasanya menjadi yang kedua?
Logika berteriak tidak mau jadi yang kedua.
Tapi hati berkompromi atas nama cinta.

Saat kau memegang tanganku, apakah yang dipikiranmu hanya aku?
Saat kau memeluk pinggangku, apakah kau yakin yang kau peluk itu aku?

Aku mampu memberikan apa yang kau butuhkan.
Aku sanggup memberikan seluruh hati ini untukmu.
Tak bisakah kau hanya buatku?

Kau bilang sayang.
Kau bilang peduli.
Kau bilang aku segalanya untukmu.
Tapi kenapa kau masih bersama dia?
Tidak cukupkah jika hanya aku?

Ingin rasanya melepaskan diri darimu.
Ingin rasanya berlari meninggalkanmu.
Ingin rasanya pergi tanpa harus menoleh lagi ke arahmu.

Tapi hati memilih untuk diam disini.
Hati rela merasa sakit hanya untuk bisa bersamamu.

Dasar bodoh!!!
Teriakan di kepala tak sanggup mengalahkan keinginan hati.

Aku tahu ini salah.
Aku tahu ini hanya akan menyakiti hati.
Tapi, biarlah aku mengecap kebahagiaan semu ini.
Karena saat ini, aku hanya ingin kamu.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2013 in Uncategorized

 

Tags: ,

binary

Berhenti, kursor yang berkedip perlahan hanya ditatap seadanya yang seakan ikut sabar menunggu untuk menerima masukan dari si pengguna. Si pengguna hanya diam, dengan pikiran seakan-akan menembus batas nyata LCD laptopnya. Diam, hampa, bahkan tidak ada satu suara pun yang menemaninya.

Lalu perlahan pandangannya tampak berbeda, sedikit buram, kemudian jernih karena penyebab buram sudah turun tanpa sengaja. “Mungkin itu yang namanya air mata”, pikir si LCD. “Menjauhlah, jangan sampai kena aku”, doa si keyboard diam-diam. Lalu si pengguna menunduk, terisak dan menelungkupkan wajahnya, berhenti menatap kami, si LCD, kursor, keyboard, dan periferal sekitarnya yang ikut diam. Mencoba mendeteksi si pengguna. Mereka hanya tau 0 dan 1, sulit mendeteksi area abu-abu si pengguna.

Lalu perlahan si kursor mulai gembira karena bisa bergerak lain selain kedip sederhana tadi. Lalu gembira berubah menjadi sedih, entah apa yang merasuki si kursor, seakan mulai mengerti area abu-abu yang sekarang dimengerti kursor.
“Dia sedang sedih, kasihan, seharusnya ada orang yang menghiburnya, mengembalikan keceriaannya, mengerti dirinya dan membuatnya kembali tertawa tanpa beban. Dia hanya ingin merasa dibutuhkan, seperti kita tadi yang menunggu dibutuhkan olehnya”, si kursor bercerita kepada teman-temannya. Mereka membentuk titik dua kurung buka dengan kode ASCII yang mereka mengerti. Masih menatap si pengguna yang perlahan mencoba mengembalikan emosinya dengan membuka dokumen-dokumen terdahulu, si cache harus menghubungi memory dan ternyata memory saja tidak bisa bekerja sendiri, dokumen lama, entah dimana, “eh harddisk cobalah dicek!” ujar memory emosional. Si harddisk bergerak cepat, hingga akhirnya si pengguna berhasil membuka ‘memory’. Semua terdiam, menunggu si pengguna berreaksi. Lalu ada senyum. Semua lega. Namun senyum itu tidak lama, tidak apa, yang penting dia sudah tersenyum, setidaknya sudah bisa memikirkan bentuk lain. Dan mereka pun bekerja sama membentuk titik dua kurung tutup. Bergembira sejenak atas senyum yang mereka lihat.

Terkadang hanya perlu dimengerti secara searah dan tidak perlu menyeluruh, seperti mereka yang merasa cukup dengan melihat penggunanya tersenyum lagi. Itu saja dulu, cukup, karena jika senyum itu di-looping tentu lama-kelamaan akan membentuk kebahagiaan. Sulitkah membuat seseorang tersenyum, sedikit saja. Kalau memang iya, jangan diteruskan untuk tidak lagi bisa membuatnya tersenyum. Beranilah untuk tidak lagi melakukan hibernate, mungkin sudah saatnya memilih shut down?!

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2012 in Uncategorized

 

Lalu bertemu..

Ah Bogor..masih begini saja, banyak angkot dan macet.
Aku memilih kembali kesini, menjadikan Bogor pilihanku, meneruskan cita yang tertunda. Kampus IPB tidak banyak berubah, tetap unik jika hujan kapuk tiba. Aku tersenyum.
Dan seharusnya aku tidak lupa satu hal, Bogor si kota hujan. Tiba-tiba saja hujan datang, rintiknya semakin deras. Mengaduk isi tas berharap payung muncul tiba-tiba didalamnya. Berlari menuju halte bis. Semakin deras. Kebasahan.
“Seharusnya aku galupa bawa payung” ujarku sendiri, sambil mengangin-angini baju agar tidak lepek. Menatap sekitar..dan..terhenti pada sosok disampingku, sedang diam tampak terkejut, atau masih terkejut?!.
“Bagas?!” Sapaku.
“Yuri?!”
Kami diam, saling tatap, mungkin sibuk dengan kenangan masing-masing.
“Apa kabar?”
“Baik, kamu?”
“Sama, baik juga” Ujarku sambil mencoba tersenyum. “Sedang di Bogor?!”
“Sudah kembali menetap di Bogor” dia tersenyum.
“Syukurlah”
Lalu kembali hening.
“Bis kamu datang”
“Oh iya..” Ujarku sambil menoleh ke arah lain “duluan ya” kuanggukan kepala tanda pamit.
“Hati-hati” ujarnya masih dengan tersenyum simpul.

Kulambaikan tangan dari balik jendela bis yang berembun. Dia membalas.

Empat tahun sudah, dan senyum itu masih sama, masih meneduhkan. Empat tahun bukan waktu yang singkat, lalu kenapa terasa kembali rasa yang sama. Empat tahun tanpa sapa tanpa pula mencari tau kabarnya. Hujan mendukungku mengingat yang lalu. Aku terdiam, lalu menyeka airmataku.

 
Leave a comment

Posted by on October 27, 2012 in Fiksi, Uncategorized

 

Apa itu salah?

Hari ini cukup melelahkan buat gue. Hari ini full off meeting, meeting, dan meeting. Malam ini untuk melepaskan sedikit kepenatan di kepala gue, gue memutuskan untuk keluar makan malam dengan teman-teman gue di kantor gue terdahulu.

Gue baru aja pindah ke perusahaan tempat gue bekerja saat ini. Baru sekitar 6 bulan lah gue bekerja disini. Biarpun sudah 6 bulan gue di tempat baru, tapi gue masih tetep keep on contact sama teman-teman gue dikantor yang lama. Dan malam ini kami pun janjian ketemuan untuk dinner bareng. Memang letak kantor gue yang lama dengan kantor gue yang baru tidak berjauhan, jadi kami gampang untuk janji ketemuan.

“Gimana kerjaan lo disana Ren, lancar?”

So far masih ok lah…”

“Ada yang ganteng and qualified untuk dijadiin suami gak Ren dikantor lo?”

“Haiyyahh… lo tu ya, ngebet banget sih nyari calon suami?”

“Lah emang lo gak Ren?”
“Ya bukannya gitu, tapi gak segitu HOT-nya kali.”

“Ach… lo mah emang gak jelas Ren, sebenernya lo masih suka sama makhluk yang berjenis kelamin cowok gak sih?”

“Kurang ajar lo, gue masih normal tauk. Pasti lah gue suka sama cowok. Cuma gue gak mau terlalu maksain diri aja.”

“Alessan!! Bilang aja emang lo takut patah hati kan?”

“terserah lo lo pada aja deh”

Entah kenapa malam ini teman-teman gue pada rese’ nanyain masalah cowok. Mulai dari cowok model apa yang gue suka, suka body cowok yang seperti apa, sifat cowok yang gue suka itu yang seperti apa, dan masih buanyak lagi pertanyaan lainnya. Sebenernya apa sih tujuan mereka? Emang sih, diantara teman-teman gue itu, hanya gue yang masih jomblo. Yang lain udah pada married or paling gak udah punya pacar lah. Mungkin teman-teman gue ngeliat bahwa gue cuek untuk urusan ini. Tapi sebenernya, gue juga mikirin masalah ini lah pastinya. Tapi kalau memang gue belum diizinkan sama yang Diatas untuk ngedapetin jodoh gue, gue bisa apa? There’s nothing I can do, right?

Gak sedikit teman-teman yang bilang alasan gue belum punya pasangan sampai detik ini adalah karena gue menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk seorang cowok untuk bisa masuk ke dalam kehidupan gue. Padahal gue sendiri pun gak pernah ngerasa kalau gue mempunyai standar dan kriteria khusus untuk menetapkan calon pasangan hidup gue. Gue juga cukup tahu diri lah dengan modal yang gue miliki. Gue ngerasa bahwa gue nggak pernah kok netepin suatu standar khusus untuk menemukan pasangan hidup gue. Gimana gue bisa netepin standar, wong gue ngerasa nilai jual gue juga gak tinggi-tinggi amat kok.

Tapi, setiap gue menyampaikan hal ini ke teman-teman gue, mereka sering bilang:

“Jangan underestimate sama diri lo kenapa sih Ren.”

“Lo jangan hopeless gitu donk ach.”

“Kenapa lo jadi gak PD-an gitu sih?”

Sebenernya gue bukannya gak PD. Tapi mungkin gue hanya melakukan tindakan preventive untuk mencegah rasa sakit di hati gue. Karena gue ngerasa nilai jual yang ada didiri gue gak tinggi, gue takut kalau makhluk bernama “pria” itu gak akan memilih gue untuk dijadikan sebagai pasangan hidup mereka. So, gue mendingan mengontrol diri gue untuk untuk jangan memiliki perasaan yang terlalu mendalam terhadap seorang pria. Apa itu salah?

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2011 in Uncategorized

 

Tags:

Kotak Kecil

Kutatap kotak kecil diatas meja dikamarku. Sebuah kotak yang awalnya begitu membuatku merasa bahagia. Kotak yang berisikan benda mungil yang menyatakan betapa kau mencintaiku dan ingin serius denganku. Kotak itu berisi cincin yang kau berikan waktu kau melamarku dulu. Hari itu, kusangka semuanya akan berakhir bahagia. Bayanganku tentang indahnya berkeluarga, membesarkan anak, tua bersama, sampai melihat cucu kelak. Semuanya terangkai tanpa cela. Semuanya terlihat begitu indah. Semua itu terlihat begitu nyata. Tapi, semua bayangan itu hancur berkeping tanpa sisa. Saat tiba-tiba kau datang membatalkan semuanya. SEMUANYA. Kau bilang, kau ingin pergi. Kau bilang, rasa itu telah hilang. Kau bilang, kau menemukan yang lebih baik dariku. Hancur hati ini. Dada terasa sesak. Air mata pun mengalir tak tertahankan. Kenapa sekarang? Kenapa kau pergi disaat aku sudah sepenuhnya percaya kepadamu? Kenapa? Lalu apa arti semua kata yang ucapkan saat kau melamarku? Apa itu semua hanya omong kosong? Aku ingin marah. Tapi apa itu akan menyelesaikan masalah? Aku hanya terdiam. Aku jijik melihatmu. Aku muak. Aku kembali menatap kotak kecil itu. Aku tidak boleh tenggelam dalam rasa sakit ini. Aku harus melangkah. Kuambil kotak kecil itu, kubuka sesaat sambil menatap isinya. Kututup rapat, dan kubuang jauh-jauh kotak itu. Dengan harapan, kenangan itu juga akan terbuang bersama kotak itu.

 
1 Comment

Posted by on May 23, 2011 in Uncategorized

 

The Voice

Stop crying silly girl!!!

Suara itu begitu keras terdengar di telingaku. Suara itu seolah hendak memakiku karena melihat keadaaku saat ini.

Aku tidak mampu menhentikan aliran air mata ini. Aku hanya ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku tak mampu menahannya.

“Jangan bodoh! Buat apa kau menangisi itu semua”

Suara itu kembali memaki ku. Ingin rasanya aku membalas semua makian itu. Tapi aku tak mampu. Aku masih terlalu tenggelam dalam rasa sedih yang sedang kurasakan. Sedih karena ditinggalkan. Sedih karena ditipu. Sedih karena di khianati.

Hati ini sakit karena dikhianati oleh orang yang disayangi. Hati ini luka karena ditinggal pergi oleh orang yang dicintai. Hati ini perih karena ditipu oleh orang yang dipercayai.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Apa salahku? Apa kekuranganku?

“Berhenti menyalahkan diri sendiri! Itu nggak akan membuat perubahan”

Suara itu kembali mencaciku.

Argghhh berisik! Kenapa suara itu terus mengikutiku?

Aku berusaha menenangkan diri. Berusaha melihat semuanya dari sisi yang lebih jernih. Mungkin suara itu ada benarnya, buat apa aku terlalu tenggelam dalam perasaan sedih? Aku masih harus melanjutkan hidup. Masih banyak hal lain yang harus aku lakukan. Aku harus kuat. Pasti akan ada kisah indah lain yang menungguku di depan sana. Aku harus yakini itu. Harus!

“Bagus! Lakukanlah yang terbaik untuk hidupmu”

Suara itu pun mulai terdengar tenang. Mungkin suara itu bukan bermaksud memaki, tapi hanya ingin menyadarkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 
Leave a comment

Posted by on April 17, 2011 in Uncategorized

 

Just that easy? (Part 2)

“Ren, hari ini gue nggak balik bareng lo ya?”

“Oh ya udah gak pa pa kok Dit”

“Kok lo nggak nanyain alasannya kenapa sih Ren?”

“Ya…nanti kalo gue banyak nanya kesannya gue mau tauan urusan orang lagi.”

“Ah.. lo tu ya, emang nggak care sama temen.”

“Lah… bukannya begittuu…!!! Ok… Ok… Dita temanku yang cantik jelita, mengapa dikau tidak bisa pulang bersamaku hari ini?”

“Ah… itu mah nanyanya nggak serius!” Dita berujar manja via telepon.

Aduh… ini anak emang susah deh kalau sifat manjanya udah keluar.

“Ye… lo tu ya. Serius gue. Emang lo mau mampir kemana dulu sih Dit?”

“Gue mau dinner sama Indra.”

“Lho kumaha ieu teh? Tadi pagi katanya lo lagi berantem sama Indra. But now, belum juga jam makan siang, lo bilang mau dinner sama Indra. Jadi bingung gue.”

“Iya tadi pagi pas gue baru banget nyampe kantor, tiba-tiba Indra nelfon gue dan dia minta maaf untuk pertengkaran kami kemarin. Dan dia ngajak gue keluar malam ini”.

And lo langsung mau?”

“Iya!”

“Lho!” gue bingung dengan keputusan Dita. Kok berantem tapi gampang banget baikannya.

“Lho kenapa Ren? Toh dia kan udah minta maaf duluan sama gue.”

“Oh gak kenapa napa sih. Ok deh. Have a nice dinner!

“Ok deh. Thanks ya Ren. Lo kalo mau tidur duluan juga gak apa kok. Gue bawa kunci sendiri”

“Ok deh!”

Telepon Dita pun diputus. Jujur gue bingung, dari cerita Dita tadi pagi, sepertinya dia marah banget dan kecewa dengan perlakuan Indra ke dia tentang masalah hubungan mereka. Tapi kok sekarang, hanya dengan sebuah panggilan telepon, Dita bisa memaafkan Indra begitu aja? Sungguh aneh buat gue. Apa itu yang orang bilang dengan cinta. Atas nama cinta, kita dapat dengan mudah memaafkan kesalahan orang yang kita cintai? Apakah memang seperti itu? Ah, gue tetep nggak ngerti. Apa karena memang gue belum merasakan apa yang namanya “cinta”?

 
3 Comments

Posted by on April 14, 2011 in Uncategorized

 

Just that easy? (Part 1)

“BeTe deh gue Ren, si Indra itu gak pernah ngertiin gue. Dia maunya menang sendiri terus. Setiap gue nanyain masalah kelanjutan hubungan gue sama dia, pasti dia selalu cari cara untuk ngehindar dari topik itu. Sebenernya dia itu serius gak sih sama gue? Umur sekita-kita ini kan bukan masanya lagi pacaran untuk have fun aja.”

Iyaaa… bagusss… pagi-pagi buta begini dimana nyawa gue juga belum ngumpul seratus persen, si Dita sudah mulai bercerita masalah dia sama pacarnya, dan sepertinya masalah itu nggak ada habisnya.

“Ren! Lo dengerin gue nggak sih?”

Dita mengguncang-guncang pundak gue karena dia nggak puas dengan respon yang gue berikan, yaitu ngelanjutin mimpi indah gue di pulau kapuk.

“Iya… iya… gue denger kok Dit” Gue mulai sok pura-pura paham, dari pada ni cewek marah dan berniat melemparkan sesuatu benda solid ke muka gue.

“Kalo lo denger, mbo’ ya direspon apa gitu kek. Lo malahan lanjutin tidur lo.”

“Duhai Dita temanku sayang…. tolong dilihat dong ya… ini masih jam berapa…”

“Jam 4 pagi. Emang kenapa?” Dita masih kekeuh sumarekeuh bahwa ngebangunin orang jam 4 pagi untuk bercerita mengenai masalah percintaannya adalah merupakan sesuatu yang wajar. Dasar cewek aneh.

Bangun jam 4 pagi itu biasanya hanya gue lakukan disaat bulan puasa dimana kita memang butuh sahur untuk bekal puasa seharian penuh.

“Dita… jam 4 itu masih waktunya tidur. Please deh!”

“Tapi Ren, gue lagi perlu tempat curhat….”

Yah… susah deh kalau ini anak udah ngeratap kayak gini. Kayaknya gue mau nggak mau harus ngederin kisah percintaan dia yang alur ceritanya berbelok-belok gak jelas kesana kemari.

Akhirnya dengan penuh ketidakikhlasan, gue mulai mendengar cerita Dita walaupun dengan nyawa yang hanya 50%, tentu saja 50% lagi melanjutkan mimpi gue yang tadi sempat terpotong (emang bisa ya kayak gitu?).

Ternyata Dita lagi bingung, karena Indra cowoknya sepertinya tidak berniat serius berhubungan dengannya. Dita menginginkan hubungan mereka naik level, yaitu menuju jenjang pernikahan. Menurut gue sih amat sangat wajar kalau Dita menginginkan hal tersebut, karena mereka sudah berpacaran hampir lebih dari delapan tahun, umur mereka sudah cukup, dan alhamdulillah keduanya sudah memiliki pekerjaan, jadi apa lagi yang ditunggu? Dan alasan lain yang membuat Dita ingin segera berumah tangga adalah usianya. Dita dan gue sudah berusia 25 tahun. Dan di keluarga Dita, belum pernah ada yang menikah di atas umur 25 tahun. Makanya Dita merasa ketar ketir, karena berarti tahun ini adalah limitnya. Jika dia gagal menikah pada usia ini, berarti dia merusak tradisi keluarga.

“Gue udah pengen banget nikah Ren, tapi kok kayaknya Indra nggak ngerasain hal yang sama kayak gue ya?” mata Dita mulai berkaca-kaca.

Aduh… bisa berabe deh kalau ini anak sampe mewek sekarang. Dita kan susah di dieminnya kalau udah nangis. Entah apa dan kenapa, kayaknya teman gue yang satu ini gampang banget ngeluarin air mata. Apa katup kelenjar air matanya udah longgar ya?

“Dita…. Mungkin Indra bukannya nggak mau nikahin lo. Mungkin aja dia masih ngerasa belom siap. It can be kan Dit.”

“Belom siap kenapa sih Ren…. Gue sama dia pacaran udah lama, dan menurut pendapat gue, kami udah tahu kelebihan dan kekurangan kami masing-masing dan sudah bisa saling menerimanya kok. Terus kenapa lagi?”

“Ya… kalo alasan yang pastinya sih hanya Indra yang tahu.”

“Tapi kenapa dia nggak mau certain alasannya ke gue?”

“Mungkin dia hanya belom siap buat nyeritainnya ke lo Dit. Orang pacaran kan bukan berarti nggak ada rahasia diantara mereka. Setidaknya pasti ada satu hal yang dirahasiakan. Dan mungkin satu hal yang dirahasiakan oleh Indra itu adalah hal yang paling privasi menurut dia, dan mungkin dia belum siap untuk berbagi sama lo”

“Menurut lo gitu ya Ren?”

“Gue juga nggak tau pastinya sih Dit. Tapi kalo menurut gue, coba aja lo ngomong pelan-pelan sama Indra. Jangan pake emosi karena lo ngerasa Indra ngak peduli dengan permintaan lo untuk dinikahin dia”

“Ooo gitu ya menurut lo? Ok deh. Gue coba lagi. Thanks banget ya Ren udah mau dengerin ocehan gue di pagi-pagi subuh begini.”

“Nah, kalo lo sadar ini pagi buta, berarti gue udah dipersilahkan untuk kembali melanjutkan tidur gue yang tertunda kan? Ok deh tidur ronde kedua gue lanjutkan.” Gue langsung kembali memasukkan tubuh gue kedalam selimut untuk melanjutkan tidur session kedua.

“Rena… ini udah jam lima tauk… Shalat dulu sana terus lo kan harus langsung siap-siap buat pergi ke kantor” Dita menarik selimut gue dan memaksa gue untuk segera bangun dari tempat tidur.

“Dasar nenek bawel!” Gue menggerutu ke arah Dita.

“Apa lo bilang Ren? Sana buruan mandi….” Dita terus mendorong dorong gue. Dengan berat hati tapi dengan kebesaran jiwa akhirnya gue pergi ke kamar mandi dan melanjutkan tidur gue disana.

 
2 Comments

Posted by on April 14, 2011 in Uncategorized

 

Tags: