RSS

Author Archives: nadia

About nadia

Random dan sesuka hati

Hati dan logika

Seperti inikah rasanya menjadi yang kedua?
Logika berteriak tidak mau jadi yang kedua.
Tapi hati berkompromi atas nama cinta.

Saat kau memegang tanganku, apakah yang dipikiranmu hanya aku?
Saat kau memeluk pinggangku, apakah kau yakin yang kau peluk itu aku?

Aku mampu memberikan apa yang kau butuhkan.
Aku sanggup memberikan seluruh hati ini untukmu.
Tak bisakah kau hanya buatku?

Kau bilang sayang.
Kau bilang peduli.
Kau bilang aku segalanya untukmu.
Tapi kenapa kau masih bersama dia?
Tidak cukupkah jika hanya aku?

Ingin rasanya melepaskan diri darimu.
Ingin rasanya berlari meninggalkanmu.
Ingin rasanya pergi tanpa harus menoleh lagi ke arahmu.

Tapi hati memilih untuk diam disini.
Hati rela merasa sakit hanya untuk bisa bersamamu.

Dasar bodoh!!!
Teriakan di kepala tak sanggup mengalahkan keinginan hati.

Aku tahu ini salah.
Aku tahu ini hanya akan menyakiti hati.
Tapi, biarlah aku mengecap kebahagiaan semu ini.
Karena saat ini, aku hanya ingin kamu.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2013 in Uncategorized

 

Tags: ,

Apa itu salah?

Hari ini cukup melelahkan buat gue. Hari ini full off meeting, meeting, dan meeting. Malam ini untuk melepaskan sedikit kepenatan di kepala gue, gue memutuskan untuk keluar makan malam dengan teman-teman gue di kantor gue terdahulu.

Gue baru aja pindah ke perusahaan tempat gue bekerja saat ini. Baru sekitar 6 bulan lah gue bekerja disini. Biarpun sudah 6 bulan gue di tempat baru, tapi gue masih tetep keep on contact sama teman-teman gue dikantor yang lama. Dan malam ini kami pun janjian ketemuan untuk dinner bareng. Memang letak kantor gue yang lama dengan kantor gue yang baru tidak berjauhan, jadi kami gampang untuk janji ketemuan.

“Gimana kerjaan lo disana Ren, lancar?”

So far masih ok lah…”

“Ada yang ganteng and qualified untuk dijadiin suami gak Ren dikantor lo?”

“Haiyyahh… lo tu ya, ngebet banget sih nyari calon suami?”

“Lah emang lo gak Ren?”
“Ya bukannya gitu, tapi gak segitu HOT-nya kali.”

“Ach… lo mah emang gak jelas Ren, sebenernya lo masih suka sama makhluk yang berjenis kelamin cowok gak sih?”

“Kurang ajar lo, gue masih normal tauk. Pasti lah gue suka sama cowok. Cuma gue gak mau terlalu maksain diri aja.”

“Alessan!! Bilang aja emang lo takut patah hati kan?”

“terserah lo lo pada aja deh”

Entah kenapa malam ini teman-teman gue pada rese’ nanyain masalah cowok. Mulai dari cowok model apa yang gue suka, suka body cowok yang seperti apa, sifat cowok yang gue suka itu yang seperti apa, dan masih buanyak lagi pertanyaan lainnya. Sebenernya apa sih tujuan mereka? Emang sih, diantara teman-teman gue itu, hanya gue yang masih jomblo. Yang lain udah pada married or paling gak udah punya pacar lah. Mungkin teman-teman gue ngeliat bahwa gue cuek untuk urusan ini. Tapi sebenernya, gue juga mikirin masalah ini lah pastinya. Tapi kalau memang gue belum diizinkan sama yang Diatas untuk ngedapetin jodoh gue, gue bisa apa? There’s nothing I can do, right?

Gak sedikit teman-teman yang bilang alasan gue belum punya pasangan sampai detik ini adalah karena gue menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk seorang cowok untuk bisa masuk ke dalam kehidupan gue. Padahal gue sendiri pun gak pernah ngerasa kalau gue mempunyai standar dan kriteria khusus untuk menetapkan calon pasangan hidup gue. Gue juga cukup tahu diri lah dengan modal yang gue miliki. Gue ngerasa bahwa gue nggak pernah kok netepin suatu standar khusus untuk menemukan pasangan hidup gue. Gimana gue bisa netepin standar, wong gue ngerasa nilai jual gue juga gak tinggi-tinggi amat kok.

Tapi, setiap gue menyampaikan hal ini ke teman-teman gue, mereka sering bilang:

“Jangan underestimate sama diri lo kenapa sih Ren.”

“Lo jangan hopeless gitu donk ach.”

“Kenapa lo jadi gak PD-an gitu sih?”

Sebenernya gue bukannya gak PD. Tapi mungkin gue hanya melakukan tindakan preventive untuk mencegah rasa sakit di hati gue. Karena gue ngerasa nilai jual yang ada didiri gue gak tinggi, gue takut kalau makhluk bernama “pria” itu gak akan memilih gue untuk dijadikan sebagai pasangan hidup mereka. So, gue mendingan mengontrol diri gue untuk untuk jangan memiliki perasaan yang terlalu mendalam terhadap seorang pria. Apa itu salah?

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2011 in Uncategorized

 

Tags:

Kotak Kecil

Kutatap kotak kecil diatas meja dikamarku. Sebuah kotak yang awalnya begitu membuatku merasa bahagia. Kotak yang berisikan benda mungil yang menyatakan betapa kau mencintaiku dan ingin serius denganku. Kotak itu berisi cincin yang kau berikan waktu kau melamarku dulu. Hari itu, kusangka semuanya akan berakhir bahagia. Bayanganku tentang indahnya berkeluarga, membesarkan anak, tua bersama, sampai melihat cucu kelak. Semuanya terangkai tanpa cela. Semuanya terlihat begitu indah. Semua itu terlihat begitu nyata. Tapi, semua bayangan itu hancur berkeping tanpa sisa. Saat tiba-tiba kau datang membatalkan semuanya. SEMUANYA. Kau bilang, kau ingin pergi. Kau bilang, rasa itu telah hilang. Kau bilang, kau menemukan yang lebih baik dariku. Hancur hati ini. Dada terasa sesak. Air mata pun mengalir tak tertahankan. Kenapa sekarang? Kenapa kau pergi disaat aku sudah sepenuhnya percaya kepadamu? Kenapa? Lalu apa arti semua kata yang ucapkan saat kau melamarku? Apa itu semua hanya omong kosong? Aku ingin marah. Tapi apa itu akan menyelesaikan masalah? Aku hanya terdiam. Aku jijik melihatmu. Aku muak. Aku kembali menatap kotak kecil itu. Aku tidak boleh tenggelam dalam rasa sakit ini. Aku harus melangkah. Kuambil kotak kecil itu, kubuka sesaat sambil menatap isinya. Kututup rapat, dan kubuang jauh-jauh kotak itu. Dengan harapan, kenangan itu juga akan terbuang bersama kotak itu.

 
1 Comment

Posted by on May 23, 2011 in Uncategorized

 

Selingkuh?

“Kapan kamu ke Bandung lagi Rel?”

“Mungkin dua minggu lagi Ga”

“Ooo ya udah, nanti kita jalan lagi ya kalau kamu kesini”

“Ok deh”

“Ya udah, entar kita sambung lagi ya Rel. Aku mau ngelanjutin kerja lagi nih”

“Ok deh Ga”

“Bye”

“Bye”

Rangga, laki-laki yang sedari SMA dulu aku sukai. Entah bagaimana dan kapan, aku lupa tepatnya, tiba-tiba saja aku bertemu lagi dengannya lagi saat aku sudah lulus kuliah dan bekerja. Aku bertemu lagi dengannya saat aku ditugaskan untuk urusan pekerjaan ke Bandung. Cukup kaget aku dibuatnya saat itu. Aku kaget karena bertemu dengan idola dari masa laluku. Tapi entah siapa duluan yang memulai, akhirnya komunikasi kami pun semakin sering. Biar kami berada di dua kota yang berbeda, aku di Jakarta dan dia di Bandung, tapi kami berdua cukup sering untuk mengobrol melalui telepon ataupun hanya sekadar melalui SMS. Awalnya aku senang sekali dengan ini semua. Bagaimana tidak, orang yang sedari dulu aku idolakan, yang hanya bisa kupandang dari jauh saja, sekarang aku bisa berkomunikasi langsung dengannya, mendengar suaranya, bahkan bertemu langsung dengannya saat aku ditugaskan ke Bandung atau mungkin saat dia sedang ditugaskan ke Jakarta. Tapi hubungan apa sebenarnya yang sedang kami jalani saat ini? Apakah ini hanya pertemanan biasa? Atau ini merupakan hubungan penjajakan kearah hubungan asmara? Cara Rangga memperlakukanku cukup spesial. Dia selalu menelpon atau meng-SMS ku setiap hari. Kami saling bertukar cerita hampir setiap malam. Seolah kami tidak ingin kehilangan waktu sedikitpun untuk berbicara satu sama lain. Tapi kalau semua ini bukanlah hubungan pertemanan biasa, berarti aku sudah berselingkuh. Karena sebenarnya saat ini aku sudah mempunyai seorag kekasih. Riyan namanya. Dan hubungan kami sejauh ini baik-baik saja. Tidak ada masalah yang cukup berarti diantara kami berdua. Tapi sampai saat ini memang Riyan tidak pernah tahu bahwa saat ini aku sering kontak dengan pria bernama Rangga. Sebenarnya terbersit sedikit rasa bersalah dalam hati ku karena aku tidak jujur dengan Riyan. Aku juga menikmati hubungan yang sedang aku jalani dengan Rangga saat ini. Tapi aku dan Rangga memang tidak pacaran kok. Kami hanya berkomunikasi lebih sering dari biasanya, that’s all. Apakah kalau sering telepon-teleponan dengan cowok lain selain pacar sendiri bisa disebut selingkuh? Menurutku sih tidak.

Riyan adalah cowok yang nyaris sempurna. Secara fisik dia memiliki penampilan yang menarik. Bentuk tubuhnya yang atletis dengan tinggi badan 175 cm dan berat badan 70 kg, membuat dia terlihat begitu melindungi wanita. Kulitnya sawo matang pada umumnya orang Indonesia. Hidung bangir dan tatapan matanya yang sendu, membuat hampir semua wanita yang melihatnya menoleh kagum walaupun hanya sekilas. Dita dan Rena bilang bahwa aku sangat beruntung memiliki Riyan dalam hidupku. Mereka bilang aku telah mendapatkan anugerah dengan mendapatkan Riyan sebagai kekasih. Aku juga merasa dia teramat sangat baik kok. Dan aku juga menyadari betapa beruntungnya aku memiliki pasangan seperti Riyan. Dia selalu memperlakukan ku seperti layaknya seorang putri. Dia selalu mengantar jemputku ke kantor, dia selalu ada saat aku butuh tempat untuk berbagi, dan dia bersedia menerima aku yang seperti apa adanya. Memang Riyan luar biasa. Tapi, kenapa aku menikmati semua kedekatan yang gak jelas dengan Rangga ini ya?

 
1 Comment

Posted by on April 23, 2011 in Fiksi

 

The Voice

Stop crying silly girl!!!

Suara itu begitu keras terdengar di telingaku. Suara itu seolah hendak memakiku karena melihat keadaaku saat ini.

Aku tidak mampu menhentikan aliran air mata ini. Aku hanya ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku tak mampu menahannya.

“Jangan bodoh! Buat apa kau menangisi itu semua”

Suara itu kembali memaki ku. Ingin rasanya aku membalas semua makian itu. Tapi aku tak mampu. Aku masih terlalu tenggelam dalam rasa sedih yang sedang kurasakan. Sedih karena ditinggalkan. Sedih karena ditipu. Sedih karena di khianati.

Hati ini sakit karena dikhianati oleh orang yang disayangi. Hati ini luka karena ditinggal pergi oleh orang yang dicintai. Hati ini perih karena ditipu oleh orang yang dipercayai.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Apa salahku? Apa kekuranganku?

“Berhenti menyalahkan diri sendiri! Itu nggak akan membuat perubahan”

Suara itu kembali mencaciku.

Argghhh berisik! Kenapa suara itu terus mengikutiku?

Aku berusaha menenangkan diri. Berusaha melihat semuanya dari sisi yang lebih jernih. Mungkin suara itu ada benarnya, buat apa aku terlalu tenggelam dalam perasaan sedih? Aku masih harus melanjutkan hidup. Masih banyak hal lain yang harus aku lakukan. Aku harus kuat. Pasti akan ada kisah indah lain yang menungguku di depan sana. Aku harus yakini itu. Harus!

“Bagus! Lakukanlah yang terbaik untuk hidupmu”

Suara itu pun mulai terdengar tenang. Mungkin suara itu bukan bermaksud memaki, tapi hanya ingin menyadarkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 
Leave a comment

Posted by on April 17, 2011 in Uncategorized

 

Just that easy? (Part 2)

“Ren, hari ini gue nggak balik bareng lo ya?”

“Oh ya udah gak pa pa kok Dit”

“Kok lo nggak nanyain alasannya kenapa sih Ren?”

“Ya…nanti kalo gue banyak nanya kesannya gue mau tauan urusan orang lagi.”

“Ah.. lo tu ya, emang nggak care sama temen.”

“Lah… bukannya begittuu…!!! Ok… Ok… Dita temanku yang cantik jelita, mengapa dikau tidak bisa pulang bersamaku hari ini?”

“Ah… itu mah nanyanya nggak serius!” Dita berujar manja via telepon.

Aduh… ini anak emang susah deh kalau sifat manjanya udah keluar.

“Ye… lo tu ya. Serius gue. Emang lo mau mampir kemana dulu sih Dit?”

“Gue mau dinner sama Indra.”

“Lho kumaha ieu teh? Tadi pagi katanya lo lagi berantem sama Indra. But now, belum juga jam makan siang, lo bilang mau dinner sama Indra. Jadi bingung gue.”

“Iya tadi pagi pas gue baru banget nyampe kantor, tiba-tiba Indra nelfon gue dan dia minta maaf untuk pertengkaran kami kemarin. Dan dia ngajak gue keluar malam ini”.

And lo langsung mau?”

“Iya!”

“Lho!” gue bingung dengan keputusan Dita. Kok berantem tapi gampang banget baikannya.

“Lho kenapa Ren? Toh dia kan udah minta maaf duluan sama gue.”

“Oh gak kenapa napa sih. Ok deh. Have a nice dinner!

“Ok deh. Thanks ya Ren. Lo kalo mau tidur duluan juga gak apa kok. Gue bawa kunci sendiri”

“Ok deh!”

Telepon Dita pun diputus. Jujur gue bingung, dari cerita Dita tadi pagi, sepertinya dia marah banget dan kecewa dengan perlakuan Indra ke dia tentang masalah hubungan mereka. Tapi kok sekarang, hanya dengan sebuah panggilan telepon, Dita bisa memaafkan Indra begitu aja? Sungguh aneh buat gue. Apa itu yang orang bilang dengan cinta. Atas nama cinta, kita dapat dengan mudah memaafkan kesalahan orang yang kita cintai? Apakah memang seperti itu? Ah, gue tetep nggak ngerti. Apa karena memang gue belum merasakan apa yang namanya “cinta”?

 
3 Comments

Posted by on April 14, 2011 in Uncategorized

 

Just that easy? (Part 1)

“BeTe deh gue Ren, si Indra itu gak pernah ngertiin gue. Dia maunya menang sendiri terus. Setiap gue nanyain masalah kelanjutan hubungan gue sama dia, pasti dia selalu cari cara untuk ngehindar dari topik itu. Sebenernya dia itu serius gak sih sama gue? Umur sekita-kita ini kan bukan masanya lagi pacaran untuk have fun aja.”

Iyaaa… bagusss… pagi-pagi buta begini dimana nyawa gue juga belum ngumpul seratus persen, si Dita sudah mulai bercerita masalah dia sama pacarnya, dan sepertinya masalah itu nggak ada habisnya.

“Ren! Lo dengerin gue nggak sih?”

Dita mengguncang-guncang pundak gue karena dia nggak puas dengan respon yang gue berikan, yaitu ngelanjutin mimpi indah gue di pulau kapuk.

“Iya… iya… gue denger kok Dit” Gue mulai sok pura-pura paham, dari pada ni cewek marah dan berniat melemparkan sesuatu benda solid ke muka gue.

“Kalo lo denger, mbo’ ya direspon apa gitu kek. Lo malahan lanjutin tidur lo.”

“Duhai Dita temanku sayang…. tolong dilihat dong ya… ini masih jam berapa…”

“Jam 4 pagi. Emang kenapa?” Dita masih kekeuh sumarekeuh bahwa ngebangunin orang jam 4 pagi untuk bercerita mengenai masalah percintaannya adalah merupakan sesuatu yang wajar. Dasar cewek aneh.

Bangun jam 4 pagi itu biasanya hanya gue lakukan disaat bulan puasa dimana kita memang butuh sahur untuk bekal puasa seharian penuh.

“Dita… jam 4 itu masih waktunya tidur. Please deh!”

“Tapi Ren, gue lagi perlu tempat curhat….”

Yah… susah deh kalau ini anak udah ngeratap kayak gini. Kayaknya gue mau nggak mau harus ngederin kisah percintaan dia yang alur ceritanya berbelok-belok gak jelas kesana kemari.

Akhirnya dengan penuh ketidakikhlasan, gue mulai mendengar cerita Dita walaupun dengan nyawa yang hanya 50%, tentu saja 50% lagi melanjutkan mimpi gue yang tadi sempat terpotong (emang bisa ya kayak gitu?).

Ternyata Dita lagi bingung, karena Indra cowoknya sepertinya tidak berniat serius berhubungan dengannya. Dita menginginkan hubungan mereka naik level, yaitu menuju jenjang pernikahan. Menurut gue sih amat sangat wajar kalau Dita menginginkan hal tersebut, karena mereka sudah berpacaran hampir lebih dari delapan tahun, umur mereka sudah cukup, dan alhamdulillah keduanya sudah memiliki pekerjaan, jadi apa lagi yang ditunggu? Dan alasan lain yang membuat Dita ingin segera berumah tangga adalah usianya. Dita dan gue sudah berusia 25 tahun. Dan di keluarga Dita, belum pernah ada yang menikah di atas umur 25 tahun. Makanya Dita merasa ketar ketir, karena berarti tahun ini adalah limitnya. Jika dia gagal menikah pada usia ini, berarti dia merusak tradisi keluarga.

“Gue udah pengen banget nikah Ren, tapi kok kayaknya Indra nggak ngerasain hal yang sama kayak gue ya?” mata Dita mulai berkaca-kaca.

Aduh… bisa berabe deh kalau ini anak sampe mewek sekarang. Dita kan susah di dieminnya kalau udah nangis. Entah apa dan kenapa, kayaknya teman gue yang satu ini gampang banget ngeluarin air mata. Apa katup kelenjar air matanya udah longgar ya?

“Dita…. Mungkin Indra bukannya nggak mau nikahin lo. Mungkin aja dia masih ngerasa belom siap. It can be kan Dit.”

“Belom siap kenapa sih Ren…. Gue sama dia pacaran udah lama, dan menurut pendapat gue, kami udah tahu kelebihan dan kekurangan kami masing-masing dan sudah bisa saling menerimanya kok. Terus kenapa lagi?”

“Ya… kalo alasan yang pastinya sih hanya Indra yang tahu.”

“Tapi kenapa dia nggak mau certain alasannya ke gue?”

“Mungkin dia hanya belom siap buat nyeritainnya ke lo Dit. Orang pacaran kan bukan berarti nggak ada rahasia diantara mereka. Setidaknya pasti ada satu hal yang dirahasiakan. Dan mungkin satu hal yang dirahasiakan oleh Indra itu adalah hal yang paling privasi menurut dia, dan mungkin dia belum siap untuk berbagi sama lo”

“Menurut lo gitu ya Ren?”

“Gue juga nggak tau pastinya sih Dit. Tapi kalo menurut gue, coba aja lo ngomong pelan-pelan sama Indra. Jangan pake emosi karena lo ngerasa Indra ngak peduli dengan permintaan lo untuk dinikahin dia”

“Ooo gitu ya menurut lo? Ok deh. Gue coba lagi. Thanks banget ya Ren udah mau dengerin ocehan gue di pagi-pagi subuh begini.”

“Nah, kalo lo sadar ini pagi buta, berarti gue udah dipersilahkan untuk kembali melanjutkan tidur gue yang tertunda kan? Ok deh tidur ronde kedua gue lanjutkan.” Gue langsung kembali memasukkan tubuh gue kedalam selimut untuk melanjutkan tidur session kedua.

“Rena… ini udah jam lima tauk… Shalat dulu sana terus lo kan harus langsung siap-siap buat pergi ke kantor” Dita menarik selimut gue dan memaksa gue untuk segera bangun dari tempat tidur.

“Dasar nenek bawel!” Gue menggerutu ke arah Dita.

“Apa lo bilang Ren? Sana buruan mandi….” Dita terus mendorong dorong gue. Dengan berat hati tapi dengan kebesaran jiwa akhirnya gue pergi ke kamar mandi dan melanjutkan tidur gue disana.

 
2 Comments

Posted by on April 14, 2011 in Uncategorized

 

Tags: