RSS

Author Archives: a9700i

About a9700i

Hanya suka menulis. Masih pengen jadi penulis sih. Tapi sayangnya menulis hanya bergantung pada suasana hati saja heheu.. :mrgreen:

Isyarat

Sebulan ini tidak lagi menjodohkan kopi panas dengan hujan, embun di jendela, ataupun hampa. Namun, menjodohkannya dengan apapun juga. Pagi ini sang kopi panas berjodoh dengan meja yang rapi, donat dan juga senyum di layar monitor. “Cukup kita saja yang tau” ujarnya pada uap kopi.
Perlahan disesapnya kopi itu. Aromanya menggoda, melebihi Bvlgari sekalipun. Damai. Sedamai hati ini menatap satu punggung dari kejauhan. Biarkan alam yang menyampaikan isyarat tanpa paksa.

Waktu yang akhirnya menyadarkan akan adanya kebahagiaan tanpa pamrih. Mengaguminya dari jauh tanpa mengingininya. Mendoakannya agar kelak selalu bahagia dengan hidupnya.

Tuhan, biarkan dia bahagia dan izinkan aku bahagia dengan caraku.

Uap kopi mulai hilang, tapi senyum yang terbentuk masih sama. Menikmati setiap rasa yang ada dan membiarkannya memengaruhi organ tubuh lain untuk bisa merespon positif segala asa. Beda rasa dan asa pun terasa ambigu. Perlahan mouse bergerak untuk men-klik dua kali Hanya Isyarat. Mengalun indah menemani kopi pagi. Terima kasih Dee, kini aku merasa tak sendiri.

[terinspirasi dari Hanya Isyarat, Dewi Lestari]

 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2013 in Fiksi

 

Tags: ,

binary

Berhenti, kursor yang berkedip perlahan hanya ditatap seadanya yang seakan ikut sabar menunggu untuk menerima masukan dari si pengguna. Si pengguna hanya diam, dengan pikiran seakan-akan menembus batas nyata LCD laptopnya. Diam, hampa, bahkan tidak ada satu suara pun yang menemaninya.

Lalu perlahan pandangannya tampak berbeda, sedikit buram, kemudian jernih karena penyebab buram sudah turun tanpa sengaja. “Mungkin itu yang namanya air mata”, pikir si LCD. “Menjauhlah, jangan sampai kena aku”, doa si keyboard diam-diam. Lalu si pengguna menunduk, terisak dan menelungkupkan wajahnya, berhenti menatap kami, si LCD, kursor, keyboard, dan periferal sekitarnya yang ikut diam. Mencoba mendeteksi si pengguna. Mereka hanya tau 0 dan 1, sulit mendeteksi area abu-abu si pengguna.

Lalu perlahan si kursor mulai gembira karena bisa bergerak lain selain kedip sederhana tadi. Lalu gembira berubah menjadi sedih, entah apa yang merasuki si kursor, seakan mulai mengerti area abu-abu yang sekarang dimengerti kursor.
“Dia sedang sedih, kasihan, seharusnya ada orang yang menghiburnya, mengembalikan keceriaannya, mengerti dirinya dan membuatnya kembali tertawa tanpa beban. Dia hanya ingin merasa dibutuhkan, seperti kita tadi yang menunggu dibutuhkan olehnya”, si kursor bercerita kepada teman-temannya. Mereka membentuk titik dua kurung buka dengan kode ASCII yang mereka mengerti. Masih menatap si pengguna yang perlahan mencoba mengembalikan emosinya dengan membuka dokumen-dokumen terdahulu, si cache harus menghubungi memory dan ternyata memory saja tidak bisa bekerja sendiri, dokumen lama, entah dimana, “eh harddisk cobalah dicek!” ujar memory emosional. Si harddisk bergerak cepat, hingga akhirnya si pengguna berhasil membuka ‘memory’. Semua terdiam, menunggu si pengguna berreaksi. Lalu ada senyum. Semua lega. Namun senyum itu tidak lama, tidak apa, yang penting dia sudah tersenyum, setidaknya sudah bisa memikirkan bentuk lain. Dan mereka pun bekerja sama membentuk titik dua kurung tutup. Bergembira sejenak atas senyum yang mereka lihat.

Terkadang hanya perlu dimengerti secara searah dan tidak perlu menyeluruh, seperti mereka yang merasa cukup dengan melihat penggunanya tersenyum lagi. Itu saja dulu, cukup, karena jika senyum itu di-looping tentu lama-kelamaan akan membentuk kebahagiaan. Sulitkah membuat seseorang tersenyum, sedikit saja. Kalau memang iya, jangan diteruskan untuk tidak lagi bisa membuatnya tersenyum. Beranilah untuk tidak lagi melakukan hibernate, mungkin sudah saatnya memilih shut down?!

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2012 in Uncategorized

 

Lalu bertemu..

Ah Bogor..masih begini saja, banyak angkot dan macet.
Aku memilih kembali kesini, menjadikan Bogor pilihanku, meneruskan cita yang tertunda. Kampus IPB tidak banyak berubah, tetap unik jika hujan kapuk tiba. Aku tersenyum.
Dan seharusnya aku tidak lupa satu hal, Bogor si kota hujan. Tiba-tiba saja hujan datang, rintiknya semakin deras. Mengaduk isi tas berharap payung muncul tiba-tiba didalamnya. Berlari menuju halte bis. Semakin deras. Kebasahan.
“Seharusnya aku galupa bawa payung” ujarku sendiri, sambil mengangin-angini baju agar tidak lepek. Menatap sekitar..dan..terhenti pada sosok disampingku, sedang diam tampak terkejut, atau masih terkejut?!.
“Bagas?!” Sapaku.
“Yuri?!”
Kami diam, saling tatap, mungkin sibuk dengan kenangan masing-masing.
“Apa kabar?”
“Baik, kamu?”
“Sama, baik juga” Ujarku sambil mencoba tersenyum. “Sedang di Bogor?!”
“Sudah kembali menetap di Bogor” dia tersenyum.
“Syukurlah”
Lalu kembali hening.
“Bis kamu datang”
“Oh iya..” Ujarku sambil menoleh ke arah lain “duluan ya” kuanggukan kepala tanda pamit.
“Hati-hati” ujarnya masih dengan tersenyum simpul.

Kulambaikan tangan dari balik jendela bis yang berembun. Dia membalas.

Empat tahun sudah, dan senyum itu masih sama, masih meneduhkan. Empat tahun bukan waktu yang singkat, lalu kenapa terasa kembali rasa yang sama. Empat tahun tanpa sapa tanpa pula mencari tau kabarnya. Hujan mendukungku mengingat yang lalu. Aku terdiam, lalu menyeka airmataku.

 
Leave a comment

Posted by on October 27, 2012 in Fiksi, Uncategorized

 

dingin

Malam ini dingin, sama seperti beberapa malam sebelumnya. Malam yang sudah aku pilih agar menjadi lebih dingin dari biasanya. Ah ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Perihal melepas genggaman. Menikmati hari sendiri. Berkutat dengan rutinitas, bacaan baru, pikiran baru. Tapi lantas rasa itu datang lagi. Rasa ingin berbagi, rasa ingin kembali menggenggam. Diam. Hanya bisa menatap ke luar jendela. Di luar sudah sepi, sama seperti rasa yang ada malam ini.

“Ada kekurangan yang ga bisa di terima.” Ucapku kala itu.

Lalu kami diam. Dan aku tau, ada yang salah dengan perkataanku. Entah terlalu frontal, menuntut, tidak berprasaan, atau entah apa. Aku hanya ingin 1 atau 0, cukup. Tapi yang aku rasa sekarang 0,5. Apa aku harus memutuskan sendiri, atau perlu dibicarakan lagi. Bagaimana membicarakannya lagi? Sejak saat itu pun kamu seperti diam. Diam. Diam. Dan hanya diam. Semua kembali kaku dan seadanya.

“Aku pergi, lain waktu mungkin kita bisa bertemu lagi.” Ucapmu beberapa waktu kemudian.

Lalu aku yang hanya bisa diam. Tersenyum perlahan dan menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa digenggam kembali.

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2012 in Fiksi

 

Aku ingin secangkir kopi dan sebentuk senyummu..

Pagi ini..pagi yang cerah..tidak lagi ada jus apel, jus jeruk, ataupun jus melon. Tidak ingin lagi jus sirsak ataupun jus mangga. Warna warni itu tidak lagi ku perlukan untuk mewarnai hariku. Aku tau, pagi ini tidak lagi menjadi pagiku yang monoton. Ini kali pertama, menyetir sejauh ini, sendiri. Ke tempat dimana temu dan pisah menjadi satu. Mungkin senyumku sudah semanis senyum Colby Calliat, yang setia menyanyikanku seluruh lagunya.

Aku sampai, akhirnya.
Melaju pelan sambil membaca petunjuk jalan, semoga tidak kesasar.
Udaranya sejuk, bersahabat.
Here I am. Tersenyum dan melangkah pasti.
Cocok sudah tempat ini dengan catatan di ponselku.

Dan bahagianya dimengerti sebegininya. Tepat di sebrang sana ada Kedai Kopi. Tempat yang tepat untuk menunggu.
Serasa sudah seabad tidak minum kopi. Memesan kopi favoritku.
Pesananku datang, ku hirup dalam-dalam aroma kopi tersebut. Ah harumnya. Aku yakin kopi ini akan jauh lebih nikmat dari biasanya.
Mengaduk perlahan, memandang pintu masuk sesekali, dan lalu kembali menatap keluar-melalui jendela besar. Aku yakin satu jam sama sekali tidak akan lama. Tepat seperti yang dibilang.

Ini pemandangan yang tidak biasa bagiku. Menatap lalu lalang orang lengkap dengan koper dan ransel. Entah alasan dinas kantor, bersenang-senang, atau apa lagi, yang jelas itu bisa jadi media refreshing, berbahagialah.

Aku terpaku menatap mereka.
Pikiranku berjalan mundur entah kemana.
Seakan tidak percaya kalau aku bisa sejauh ini.
Menjaga rasa dan asa.
Menepis ambigu dan ragu.

“Hai..apa kabar?” Sapaan yang mengagetkanku.
Aku berdiri, tersenyum, dan menyodorkan tangan seraya berkata “never been..”
“I’m back..dan aku ga butuh tangan kecilmu..” bisiknya.
“..better” lanjutku, terdiam, merasakan pelukannya.
“Aku kangen..” ujarnya sambil melepaskan pelukannya untuk kemudian menepuk pipiku dan tersenyum.

Terimakasih atas pagi ini, sempurna, dengan kopi dan juga senyummu.. 🙂


:: kedai kopi, bandara, menunggu kepulanganmu. ::

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2011 in Fiksi

 

Nanti?

Iya..
Nanti mungkin semua akan membaik.
Nanti mungkin semua akan sesuai dengan rencana..rencana kita..bukan lagi rencana aku atau rencana kamu.
Nanti mungkin akan ada masa bahwa mengalah itu menjadi cemilan sehari-hari.

“Lima tahun yah? ga apa-apa kan?”
“Dua tahun aja..gimana?”
“Ga sanggup..itu terlalu cepat..”
“Lima tahun kelamaan..aku punya orang sekitar yang bisa berkomentar macam-macam..”
“Tiga tahun?”
“Dua tahun..itu sudah pas..”
“Ng..”
“Atau.. mending.. selesain.. sampe sini ajah..” ujarku terbata.
“Ndie..aku ga bisa putusin sekarang..”
Aku diam..masih merasakan sakit karena kata-kata yang aku ucapkan sendiri.
Kamu diam..entah dengan pikiran apa.
“Ah aku jadi sedih..bahas nanti aja yah..ga apa-apa kan”

Obrolan singkat malam itu, tentang masa depan, tentang pernikahan, dengan kamu yang sudah jauh disana. Jarak sudah mengantarai kita. Iya, jarak yang entah berapa kilo meter, jarak yang bahkan membuat kita harus melintasi pulau. Kepercayaan dan keraguan adalah cemilan kita sehari-hari. Aku percaya bahwa rasa itu ga akan berubah, membiarkannya seujung kuku yang penting tumbuh setiap hari. Namun, aku juga ragu akan kejelasan masa depan kita, iya kita. Kita harus berani menyebut kata-kata itu kan. Tidak lagi aku dan kamu.

Dua, tiga atau lima hanyalah angka-angka. Nominal yang harus kita lalui. Masalah utama kita, menunggu. Mau dua, tiga atau lima pun judulnya tetap sama, menunggu. Asal kamu tau, aku rela menunggu, lama sekalipun, asal aku bisa hidup bahagia sama kamu, terus, sampai kita tua nanti. Tapi daya yang ada tidak sebesar pengharapan aku ke kamu. Aku harus memikirkan orang sekitar, terutama keluargaku. Kamu tau itu kan.

Aku diam. Menatap malam. Membiarkan diri kembali tidak berani merencanakan apapun. Menyeruput kopi hangat yang akan membuat malam ku lebih panjang. Berpikir dan merenung, dan juga mengumpulkan kekuatan untuk..melepaskanmu.

 
5 Comments

Posted by on May 21, 2011 in Fiksi

 

Patah

Aku akan menyudahi semuanya. Aku sudah merasa cukup atas hal-hal bernama dulu. Aku sudah yakin untuk tidak lagi mengharapnya. Sudah setahun Aku menyimpan coklat itu. Dengan beragam hal yang mengantarai. Selesai. Sampai sini saja. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2011 in Fiksi, Kisah Rey

 

Petrichor

Selalu ada yang menarik dari hujan. Aku sudah suka hujan dari dulu, sebelum mengenalmu pun. Sering berbicara tentang hujan, sering berbicara apapun ketika di luar hujan, memulai semua ini ketika hujan.. dan.. mengakhiri semua itu pun ketika hujan. Tapi tetap tidak memiliki alasan untuk membenci hujan. Miris.

“Aroma hujan itu namanya petrichor, kamu pasti baru dengar.. :p”

“baru dengar dan ga percaya heheu.. “

“Serius..tapi mungkin sedikit kurang tepat.. googling deh.. “

“Nanti..”

Aku tersenyum ketika dia mengatakannya padaku, dulu. Dan sekarang, aku masih tersenyum ketika mengingat saat itu. Ketika hujan turun, aku tidak pernah absen untuk keluar dari cubicle dan menepi sejenak ke jendela dimana aku bisa memandang gedung tempat kamu bekerja. Ya, secara fisik jarak aku dan kamu tidak terlalu jauh tapi dalam hati semua terasa jauh, tidak..tidak terlalu jauh..tapi sayang, pun dekat ada jurang yang terlalu dalam diantara aku dan kamu, hingga tak berani selangkahpun aku mendekat.

Aku tersenyum, masih mengingatmu. Menyeruput kopi hangat sambil tetap memandang gedung sebrang.

“Happy working, bekerja yang rajin ya.. :p

Sapaanmu melalui ponsel waktu itu, waktu hujan, waktu kamu menyuruhku memandang ke gedungmu, dulu.

Ahh.. hari-hariku belum bisa terlepas dari kata-kata dulu, kala kamu masih disisiku.

 
2 Comments

Posted by on April 14, 2011 in Fiksi, Kisah Rey

 

Coklat!

Setting: Yahoo!Messenger

Pagi itu kamu mulai menyapaku lagi, meski dua bulan sudah Aku merasa terlupakan. Kamu pergi begitu saja meninggalkan aku dengan beragam pertanyaan. Baiklah, memang tidak pernah ada apa-apa di antara kita, kita-aku dan kamu. Tapi kamu sudah tau aku dan aku sudah tau kamu. Aneh.

Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by on April 12, 2011 in Fiksi, Kisah Rey