RSS

Isyarat

30 Jul

Sebulan ini tidak lagi menjodohkan kopi panas dengan hujan, embun di jendela, ataupun hampa. Namun, menjodohkannya dengan apapun juga. Pagi ini sang kopi panas berjodoh dengan meja yang rapi, donat dan juga senyum di layar monitor. “Cukup kita saja yang tau” ujarnya pada uap kopi.
Perlahan disesapnya kopi itu. Aromanya menggoda, melebihi Bvlgari sekalipun. Damai. Sedamai hati ini menatap satu punggung dari kejauhan. Biarkan alam yang menyampaikan isyarat tanpa paksa.

Waktu yang akhirnya menyadarkan akan adanya kebahagiaan tanpa pamrih. Mengaguminya dari jauh tanpa mengingininya. Mendoakannya agar kelak selalu bahagia dengan hidupnya.

Tuhan, biarkan dia bahagia dan izinkan aku bahagia dengan caraku.

Uap kopi mulai hilang, tapi senyum yang terbentuk masih sama. Menikmati setiap rasa yang ada dan membiarkannya memengaruhi organ tubuh lain untuk bisa merespon positif segala asa. Beda rasa dan asa pun terasa ambigu. Perlahan mouse bergerak untuk men-klik dua kali Hanya Isyarat. Mengalun indah menemani kopi pagi. Terima kasih Dee, kini aku merasa tak sendiri.

[terinspirasi dari Hanya Isyarat, Dewi Lestari]

 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2013 in Fiksi

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s