RSS

Suara Dari Masa Lalu 2

15 Nov

Lanjutan dari kisah sebelumnya

Aku termangu di depan sebuah rumah besar dengan pagar besi berwarna putih. Jantungku berdegup kencang, sial, seperti itulah ketika dulu pertama kali aku datang ke rumah ini. Dengan sedikit gemetar aku pun menekan tombol bel yang ada di balik pagar. Kriiiinggg!!! Tak berapa lama muncullah wanita setengah baya dengan menggunakan daster rumahan. Sepertinya dia adalah pembantu barunya.

“Ada apa, Pak?” tanyanya dari balik pagar.

“Mmm, Dhea-nya ada, Bik?” sekali lagi sial! Setua itukah diriku sampai harus dipanggil ‘Pak’?

“Oh, ada. Non Dhea ada. Maaf, Bapak ini siapa ya?” tanyanya setengah menyelidik. Aku pun maklum mengingat modus operandi kejahatan saat ini mulai bermacam-macam.

“Saya temannya Dhea, tadi udah janjian kok.” jawabku meyakinkan.

Tiba-tiba dari dalam terdengar sesorang berseru, dan suaranya sangat aku kenal. Suara yang begitu familiar di telingaku. “Siapa itu, Bik?”

“Ini Non, katanya temannya non Dhea dan katanya juga udah janjian.”

“Suruh masuk aja, Bik.”

“Baik, Non.” Akhirnya si bibik membuka pintu pagar dan mempersilahkan aku masuk.

Saat aku masuk, kulihat sudah ada seseorang yang berdiri di teras. Ah, dia masih seperti dulu. Rambutnya yang lurus dan panjang dia ikat kebelakang dengan sederhana namun tetap membuat hati ini berdebar. Wajahnya yang ayu dengan senyum nan manis masih memancarkan pesona itu. Aku pun mulai kikuk dibuatnya. “Ayo Kak, masuk dulu.” suaranya memecah kebengonganku.

“Eh, iya.” jawabku singkat. Aku pun segera menyerahkan bingkisan yang sudah kusiapkan untuk oleh-oleh. “Ini sedikit oleh-oleh dari Jakarta”

“Wah makasih banyak ya, Kak. Ayo silahkan duduk dulu ya, Kak.” kami pun memasuki ruang tamu. Dia masuk ke dalam untuk meletakkan bingkisan dariku di ruang tengah. Hmm, rumah ini tidak banyak berubah. Di dinding kulihat banyak sekali foto yang terpajang. Yang menarik perhatianku adalah foto dia dengan seorang anak kecil. Apakah itu anaknya? Tapi mengapa aku tidak melihat foto dia dengan seorang laki-laki yang mungkin suaminya?

“Nih Kak, minum dulu. Sori ya harus nunggu lama. Abisnya ada tamu dari jauh masa gak disuguhin minum.” katanya sambil menyodorkan gelas berisi minuman ke depanku.

“Iya, makasih. Gimana kabarmu? Wah, udah lama sekali kita gak ketemu ya?” tanyaku memulai percakapan.

“Yah, lumayan lah, Kak. Seperti yang Kakak liat.” jawabnya sambil mengangkat bahu.”Kalo Kakak gimana? Udah berkeluarga ya sekarang?”

Jleb! Kenapa dia harus menanyakan itu? Pertanyaan yang dilontarkan oleh sesorang yang pernah mengisi hatiku dan menghiasi hari-hariku, namun kutinggalkan tanpa pernah memberikan alasan yang jelas.

“Mmm, iya aku udah menikah sekarang. Kamu sendiri gimana, udah nikah juga ya?” jawabku sedikit tergagap.

“Ya, aku udah married dan udah punya anak satu. Tapi sekarang lagi di rumah tanteku. Biasa kalo pas tanteku libur dia suka nginep di sana. Besok baru aku jemput. Kalo Kakak udah berapa anaknya?”

“Owh, aku belum punya. Masih berusaha. Emang belum waktunya kali. Anakmu sudah berapa taon, De?”

“Dia udah 3 tahun. Jagoanku dia, Kak.” jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang manis dan masih seperti dulu saat terakhir kami bertemu.

“Lalu suamimu kerja di mana sekarang?” tanyaku spontan. Tapi tak kusangka karena mendadak roman mukanya berubah seolah ada mendung di sana. Aku pun jadi menyesal bertanya demikian.

Dia pun menarik nafas panjang, “Dia udah pergi, Kak.” lanjutnya, “Maksudku dia udah memilih untuk meninggalkan aku dan anaknya.” suaranya sedikit tercekat di tenggorokan ketika ia berbicara.

“Sori, De. Bukan maksudku untuk mengungkit kesedihanmu. Swear, aku bener-bener ga tau.”

“Ga apa-apa, Kak. Lama-lama aku udah biasa kok. Lagipula dengan bercerita begini jadi sedikit mengurangi bebanku. Eh, iya, diminum dulu dong, Kak. Masa dianggurin aja sih?” katanya mencoba mengalihkan perhatian.

Akhirnya kuminum seteguk sirup dalam gelas itu untuk membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba kering. Tapi sebenarnya aku masih penasaran, mengapa ada laki-laki yang begitu tega meninggalkannya begitu saja. Padahal di mataku dia begitu baik tak kurang suatu apa pun. Aku telah menjadi saksi betapa perhatiannya dia, betapa baik hatinya di masa lalu. Dan aku yakin itu tidak akan berubah sampai kapan pun. Bahkan sampai detik ini, aku masih merasakan kehangatan yang sama dengan yang kurasakan dulu.

“Memangnya dia gak pernah kasih kabar sama sekali, De? Gak pernah kangen sama anaknya gitu?” aku masih mencoba menggali apa yang sebenarnya terjadi.

“Jadi awalnya dia pamit mau merantau ke Kalimantan. Mencoba peluang usaha di sana. Sebagai istri tentunya aku malah mendukung dong. Lagipula aku di sini juga sudah punya pekerjaan yang sayang untuk ditinggalkan. Akhirnya kami tinggal terpisah. Aku di sini sedangkan dia di Kalimantan. Waktu awal-awal sih biasa aja, artinya kami masih sering komunikasi. Tapi setelah berjalan tiga bulan aku ngerasa dia menjauhiku. Tiap kutelepon ada aja alasannya. Yang lagi meeting lah, yang lagi ketemu klien lah, yang capek lah. Dan aku masih mencoba menerima alasan yang dia berikan.” diam-diam kulirik ke arah matanya sudah ada butiran air yang siap menetes di sana. Dan aku hanya diam terpaku mendengar kisah yang dia ceritakan.

“Sampai suatu ketika aku menawarkan diri untuk menjemputnya. Aku rela keluar dari pekerjaanku sekarang, dan siap menemaninya untuk memulai hidup yang baru di sana. Waktu itu anak kami masih berumur sekitar dua tahun. Tapi apa jawaban yang kudapatkan? Dia bilang kalo aku gak usah pake nyusul-nyusul segala. Kalo sampai aku nekat menyusul ke sana, jangan salahkan kalau aku menjadi seseorang yang tidak dianggap ada olehnya. Kamu bisa bayangin gak Kak, betapa hancur dan remuk hatiku mendapat jawaban seperti itu dari orang yang selama ini aku sayangi, tempat aku berbagi?” kali ini bulir-bulir air mata itu tak terbendung lagi. Mereka mulai mengalir melintasi pipi yang putih dan halus itu. Aku bisa memahami emosi yang dia rasakan. Dan jujur, aku pun merasa muak dengan laki-laki itu. Betapa tidak punya harga diri karena menelantarkan wanita yang menjadi istrinya. Aku merasa geram dan ingin sekali menghajar orang itu, karena telah berbuat aniaya terhadap seseorang yang istimewa di mataku baik dulu maupun sekarang.

“Tapi waktu itu kamu gak jadi nyusul dia kan, De?”

“Nggak lah, Kak. Aku juga gak mau mempertaruhkan nasib dan terutama nasib anakku di negeri antah berantah kaya gitu. Di sana aku gak punya siapa-siapa.” tapi kalo kamu ke Jakarta, kamu masih punya aku, kataku dalam hati. Sayang tempat yang ingin kamu tuju adalah Kalimantan dan bukannya Jakarta.

Dia pun melanjutkan, “Akhirnya aku putuskan untuk memulai hidup yang baru. Tapi tidak di sana melainkan di sini. Hidup yang baru yaitu hanya aku dan anakku. Biarlah dia mengejar dan semoga menemukan apa yang dia cari. Aku sudah tidak peduli. Yang aku pikirkan kini hanyalah masa depan anakku, Kak.”

“Aku juga laki-laki, De. Tapi jujur, aku juga merasa jengah dengan tingkah suamimu itu. Di mataku laki-laki seperti itu tidak layak disebut sebagai seorang laki-laki, melainkan seorang banci pengecut.” kataku penuh emosi. “Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu, De. Aku gak menyangka kamu akan mengalami hal kaya gini. Sesuatu yang kupikir hampir tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata dan hanya ada di dalam cerita sinetron. Tapi kini aku menjadi saksi bahwa sesuatu kaya gini ternyata bisa menimpa siapa aja. Dan itu terjadi kepada seseorang yang pernah dekat dengan aku.”

“Iya, Kak. Aku juga gak pernah menyangka dan berharap hidupku akan kaya gini…” tangis itu pun akhirnya pecah dan dia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Aku bingung dan kikuk. Secara refleks akhirnya dia memelukku dan menumpahkan tangisannya di bahuku. Badanku tegang karena meskipun dia dulu adalah seseorang istimewa, namun kini aku juga sudah menemukan seorang pasangan hidup, begitu pun dia walaupun harus berakhir duka. Tapi tangisan itu meluluhkan aku dan membuatku lumer. Lalu kuusap-usap bahunya untuk menenangkannya.

Sedetik kemudian berkelebatan kenangan-kenangan di masa lalu saat kami masih bersama. Ketika kami masih saling berbagi, baik suka maupun duka. Waktu di mana aku dan dia jalan bersama hanya untuk mencari bakso atau shomay yang enak. Kami menyusuri lorong-lorong pertokoan mencari kado untuk sahabat baiknya. Atau saat di mana kami berjalan di sepanjang bibir pantai sambil bergandengan tangan. Seingatku tidak ada momen di mana dia sampai bersedih dan menangis saat kami bersama. Kecuali satu, saat aku harus pergi ke ibu kota. Aku hanya sempat berpamitan lewat telepon dan tidak sempat bertatap muka. Dan sejak saat itu intensitas komunikasi kami menurun drastis. Selain memang pekerjaan yang menyita waktu, juga karena waktu itu akhirnya aku bertemu dengan orang lain. Ya, sesorang yang saat ini menjadi istriku. Aku baru menyadari kalau waktu berjalan terlalu cepat. Sepertinya itu semua baru terjadi kemarin. Dan hari ini tiba-tiba aku sudah berada di sini serta harus menerima kenyataan bahwa dia saat ini sedang sangat terpuruk.

Lalu kami berdua tersadar dan menarik diri kami masing-masing. Dia pun mengusap air mata yang meleleh di pipi putih bak pualam itu dengan menggunakan tissue. Kulihat dia saat ini sudah sedikit lega. Mungkin selama ini belum pernah ada seseorang yang bisa dia ajak bicara seperti saat ini.

“Maaf ya, Kak. Jauh-jauh datang ke sini hanya dijadiin tempat sampah. Harus mendengarkan keluh kesahku. Tapi selama ini aku juga gak punya tempat curhat yang nyaman. Baru kali ini aku merasa kamu orang yang tepat, Kak. Entah kenapa.” tuturnya setelah agak tenang.

“Gak apa-apa, De. Kapan pun kamu butuh teman bicara, aku siap kok. Jangan sungkan-sungkan ya.”

“Iya, Kak. Makasih banyak ya udah mau jadi tempat curhatku. Aku bingung, selama ini harus curhat ke siapa.”

Aku jadi hampir lupa tujuan utama ke rumah ini. Sebenarnya aku ke sini ingin meminta maaf dan mengatakan sesuatu yang tak sempat terucap di masa lalu. Tapi setelah mendengar ceritanya, aku  jadi bimbang. Aku takut nanti ucapanku hanya akan menambah luka di hatinya. Ah, biarlah itu kusimpan sendiri, toh sikapnya padaku tidak berubah. Kelak suatu saat nanti pasti tetap akan kukatakan, maafkan aku Dhea, karena dulu pernah meninggalkanmu begitu saja. Suara itu akan terus berdengung di dalam kepalaku sampai tiba saat yang tepat untuk mengeluarkannya. Untuk saat ini biarlah dia menarik nafas lega terlebih dahulu setelah beban berat yang selama ini menindihnya sudah sedikit terangkat.

Setelah mengobrol kesana-kemari akhirnya aku mohon diri, karena hari juga sudah menjelang petang. “Aku pulang dulu ya De. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Mudah-mudahan kamu mendapatkan yang terbaik. Dan jika kamu butuh teman bicara, aku siap. Kamu masih menyimpan nomorku kan?”

“Iya, Kak. Amiin. Makasih doanya ya. Nomormu masih aku simpan kok. Hati-hati di jalan ya, dan salam buat keluarga.” katanya sambil melambaikan tangan.

“Oke, beres.” lalu aku pun pulang dengan tersenyum. Senyum bahagia namun aku sendiri tak tahu kenapa. Tapi yang jelas, meskipun dia bukan lagi milikku, kenangan indah akan dirinya akan selalu mengisi ruang hatiku. Menjadi sebuah kisah yang tak tertulis dalam lembaran hidupku.

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s