RSS

Suara Dari Masa Lalu 1

15 Nov

Kutatap birunya laut dan kuhirup udara yang anyir ini dalam-dalam. Berbagai hal berkecamuk di alam pikirku. Saat ini aku akan pulang ke kampung halamanku, tapi entah mengapa seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Selain rasa rindu pada ayah dan ibuku, ada hal lain yang selalu menghantuiku. Ya, sesuatu dari masa lalu.

Sudah hampir 5 tahun aku tidak pulang karena harus merantau ke ibu kota. Rasa rinduku terhadap keluargaku di tanah kelahiran sudah tak terbendung lagi. Aku bahkan sudah tidak bisa membayangkan bagaimana wajah si Hamzah adikku yang saat aku berangkat dulu masih ada dalam gendongan ibuku. Lalu, bagaimana ya ayah sekarang, apakah beliau masih segagah dan setegap dulu? Beliau adalah seorang mandor di sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit. Badannya yang tegap sangat mendudung dalam pekerjaannya. Beliau termasuk orang yang disegani oleh orang-orang di kampung kami. Sedangkan ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali membuat jajanan untuk kemudian dititipkan di warung-warung terdekat.

Di kejauhan kulihat mulai tampak ada bayangan hitam, ah daratan. Berarti sebentar lagi aku sampai. Meskipun dari pelabuhan menuju rumahku masih menempuh perjalanan selama 4 jam lagi, namun rasanya aku sudah dekat sekali dengan rumah. Kuambil handphone dari saku celanaku lalu kucari sebuah nama, ya, nama dari masa lalu. Sebenarnya aku ingin menelepon, namun akhirnya niat itu kuurungkan. Akhirnya aku hanya mengirim sms:

“De, hari ini aku pulang. Sebentar lagi aku sudah sampai pelabuhan.”

Kutunggu 5 menit, 10 menit, ah tak kunjung ada balasan. Yah, mungkin dia sedang sibuk, karena terakhir kudengar kabar bahwa dia telah bekerja di sebuah Puskesmas dan menjadi seorang perawat. Atau jangan-jangan dia telah lupa padaku. Mungkin aku berharap terlalu banyak.

Teeeetttttt!!!! Suara klakson kapal tanda sudah bersandar mengagetkanku dari lamunan. Orang-orang pun sudah berdesak-desakan ingin segera keluar. Tak lama berselang dari pintu-pintu kapal mereka berhamburan keluar. Bah, macam orang yang sedang muntah saja kapal itu. Aku memilih bersantai dulu, menunggu suasana agak lengang, karena di antara orang-orang yang sedang berdesak-desakan itu terkadang ada pihak yang berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu pencopet.

Turun dari kapal aku pun segera berjalan ke terminal bus dan segera naik bus yang menuju ke arah kampung halamanku. Ah, sudah semakin dekat saja aku dengan rumah.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, sampailah aku di mulut gang rumahku. Lalu dengan pasti kuayunkan langkahku menuju rumahku, rumah tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja sekarang rumah mungil itu tampak lebih bersih. Dan masih dikelilingi oleh pohon akasia yang sengaja ditanam oleh ayahku sebagai penyejuk. Tampak di depan rumah seorang anak kecil sedang asyik bermain mobil-mobilan kayu.

“Hamzah!!!”, kupanggil anak kecil itu.

Ia pun menoleh namun mengernyitkan dahi karena sepertinya ia tidak mengenalku.

“Ini aku, abangmu!!! Bang Fajar…”, teriakku kegirangan.

Ia pun segera meninggalkan mainannya dan segera berlari menghampiriku seraya berteriak, “Bu, Bang Fajar pulang!!! Ayo sini dia sudah sampai!!!”

Hamzah pun segera memelukku setelah mencium tanganku. Ah, dia sudah besar sekarang.

“Hei kelas berapa sekarang kau?”, tanyaku dalam keharuan.

“Kelas 5 bang. Ini baru saja bagi raport.”

Lalu di depan rumah kulihat seorang wanita paruh baya, dengan rambut yang sudah mulai memutih dan senyum mengembang di bibirnya. Ya, beliau adalah ibuku.

Aku pun segera menghampirinya dan segera kucium tangannya. Pelukan hangat pun langsung kuterima.

“Ibu rindu sekali padamu, nak.” bisiknya dalam isak penuh haru.

“Aku juga, Bu…”, tak terasa aku pun menitikkan air mata.

“Ayah di mana, Bu?”

“Oh, tadi dia sedang ada perlu ke rumah Pak RT. Sebentar lagi juga dia pulang.”

“Ayo sana, mandi dan bersihkan badanmu dulu. Badanmu masih bau keringat tuh.”, kata ibu sambil tersenyum kecil seraya menutup hidung. Ah, beliau juga masih senang bercanda seperti dulu.

***

Selesai mandi, ternyata ayah sudah ada di rumah. Aku pun segera mencium tangannya, dan kami pun akhirnya bercakap-cakap di bale bambu depan rumah.

“Bagaimana pekerjaanmu di Jakarta?”, ayah memulai percakapan.

“Alhamdulillah baik, Yah. Semuanya lancar. Aku pun sekarang sudah diangkat menjadi karyawan tetap.”

“Syukurlah kalau begitu. Jadi kemungkinan kena PHK kecil kan?”

“Ya selama tidak melakukan kesalahan yang fatal sih Insya Allah aman, Yah.”

“O ya bagaimana kabar menantu ayah? Mengapa tidak kau ajak dia pulang sekalian sih?”, Ayah bertanya dengan wajah yang berseri-seri. Beliau tampak senang sekali jika sudah membahas tentang istriku. Menurutnya istriku adalah wanita yang paling sempurna dan cocok untukku.

“Oh Lidya sehat-sehat saja, Yah. Kebetulan jatah cutinya sudah habis jadi dia tidak bisa ikut kemari. Insya Allah lebaran tahun depan kami berencana untuk pulang kemari, Yah.”

“Alhamdulillah. Ya sudah tidak apa-apa, yang penting dia sehat. Kapan kalian akan memberikan cucu kepada ayah? Ayah sudah tidak sabar menimang cucu nih.”

“Ya sabar, Yah. Kami juga sedang berusaha kok… Pokoknya usahanya kenceng lho Yah…”, jawabku sambil nyengir.

“Wah..wah..wah… Kaum pria ini kalau sudah ketemu, pasti bahasannya yang aneh-aneh.”, celetuk Ibu yang tiba-tiba muncul sambil membawa dua cangkir kopi serta sepiring singkong goreng.

“Kok aneh bagaimana sih Ibu ini? Kita ini sedang membahas masalah cucu lho.”, jawab Ayah seolah membela diri. “Katanya Ibu ingin segera menimang cucu?”, lanjut Ayah.

“Iya juga sih…”, sahut Ibu sambil tersenyum ke arahku.

“Wadoh… lama tidak pulang, pas pulang malah yang ditanyakan cucunya….”, jawabku sambil menepuk jidat.

Akhirnya kami pun asyik tenggelam dalam obrolan sambil menikmati kopi hangat ditemani singkong goreng, ah nikmatnya…

***

Hapeku berbunyi, dan ketika kulihat di layar, oh ternyata dia yang menelepon.

“Halo, Assalamu’alaikum…”, sapaku lebih dulu.

“Wa’alaikum salam. Halo, Kak? Apa kabar nih? Wah, sombong… Yang baru pulang gak mampir nih???”, suara dari seberang sana. Suara itu masih seperti yang dulu, renyah, lembut, dan bersahabat. Sejenak aku terbayang ke masa lalu saat kami masih bersama. Kami begitu dekat, terkadang malah lebih seperti kakak dan adik. Banyak sekali kenangan indah yang telah kami ukir bersama, dan rasanya sulit untuk dilupakan begitu saja.

“Aduh, bukannya sombong, tapi sampai juga baru kemarin. Eh, yang sombong bukannya kamu, De. Kemarin aku SMS kok gak dibales?”

“Oh iya, maaf Kak. Kemarin lagi banyak pasien. Jadi belum sempet balesnya.”

Tiba-tiba saja aku menanyakan hal yang konyol, sesuatu yang tidak aku pikirkan sebelumnya.

“Aku boleh main ke rumahmu? Pengen ketemu aja sih. Kan kita udah lama gak ketemu.”

“Boleh, Kak. Kebetulan ini kan Sabtu, jadi nanti aku setengah hari juga udah pulang kok. Mau ke sini jam berapa, Kak?” tanyanya.

“Ya kira-kira ba’da Ashar lah aku nanti ke sana.”

“OK, kutunggu. Jangan lupa oleh-olehnya ya…”, jawabnya.

“Tenang… sudah kusiapkan kok. Baiklah sampai jumpa nanti ya…”

“Iya, Kak.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”, lalu klik dan hapeku kuletakkan kembali di atas meja.

Aku masih termenung. Apa yang akan kukatakan padanya jika bertemu nanti? Siapkah mentalku saat menatap wajahnya nanti? Tapi aku juga tidak ingin dicap sebagai seorang pengecut yang selalu berusaha lari dari masa lalunya. Suaranya yang masih ramah dan bersahabat membuat hatiku semakin galau dan semakin merasa bersalah. Jika kuingat apa yang pernah kulakukan padanya, terkadang aku jadi membenci diriku sendiri. Mengapa dulu aku bisa setega itu? Laki-laki macam apa aku ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, janji harus ditepati. Jangan sampai masa lalu itu terulang kembali. Ini harus diselesaikan sekarang, sebelum aku semakin larut dalam rasa bersalahku.

Bersambung

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s