RSS

Seandainya waktu itu…

17 Oct

Lima tahun yang lalu.

“Kayanya kita cukup sampe di sini aja, Mas.” kataku sore itu di depan kampus.

“Tapi apa salahku? Kayanya aku gak pernah berbuat salah. Please, aku butuh penjelasan. Jangan cuma sepihak gini dong.” protesmu.

“Gak ada yang salah, Mas. Aku hanya merasa ini semua harus berakhir. Semoga masing-masing dari kita mendapatkan yang terbaik.” kataku sok bijaksana.

“Baiklah jika itu maumu, Eva. Tapi ingat, aku menerima keputusan ini bukan karena aku lemah dan tidak mau mempertahankan hubungan ini. Tapi aku menerima ini karena aku sayang kamu dan sangat menghormati keinginanmu. Dan dari detik ini sampai entah sampai kapan aku akan selalu menyayangimu.” kata-katamu begitu mantab, bijaksana, dan menenangkan seperti biasanya. Tapi kali ini aku harus bertahan, tidak boleh tergoda lagi. Keputusanku kali ini sudah bulat dan wajah tampan nan teduh itu tak boleh menggoyahkanku.

“Dan kuharap meskipun hubungan ini sudah berakhir kau tidak akan membenciku. Karena walau bagaimanapun kau adalah seseorang yang pernah mengisi hidupku.” kataku pelan.

“Justru baru saja aku ingin meminta hal yang serupa. Maafkan jika selama ini aku telah banyak menyusahkanmu. Dan semoga kau mendapatkan yang terbaik.” jawabmu masih dengan wajah yang tenang namun tak dapat menyembunyikan kegalauan yang sedang kau hadapi.

“Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan dan berikan selama ini, Mas. Ya, aku juga berharap semoga kau mendapatkan yang terbaik” suaraku sedikit bergetar karena berusaha untuk tetap tegar meskipun jauh di dalam hatiku luruh tak bertumpu pada sesuatu apa pun.

“Bolehkah aku mengantarmu pulang, paling tidak untuk kali ini saja?” kau memohon.

“Gak, Mas. Maaf aku nanti sudah dijemput sama Omku. Terima kasih atas tawaranmu, tapi sekali lagi tidak.” aku tak berani memandangmu waktu itu apalagi menerima tawaranmu karena aku takut keputusanku ini akan berubah lagi. Maafkan aku karena tidak jujur padamu, meskipun sebenarnya aku masih sayang padamu. Semua ini terpaksa kulakukan karena rasa sayangku kepada orang tuaku meskipun harus mengorbankan dan menghancurkan hati dan perasaanku. Karena jasa mereka lah aku bisa seperti ini, hampir menjadi seorang sarjana.

Rencana pernikahanku dengan Om Wisnu sudah tidak dapat ditunda apalagi dibatalkan. Keluarga kami sangat berhutang budi pada beliau. Ini semua tentang menjaga wibawa  dan membayar hutang budi keluarga. Bisnis ayah yang hampir bangkrut itu tertolong oleh bantuan modal yang diberikan Om Wisnu. Dari situlah ayah merasa sangat berhutang budi kepada Om Wisnu, dan akulah yang beliau gunakan untuk membayar hutang itu. Aku sendiri tidak menyalahkan ayahku, karena aku berhasil kuliah juga karena hasil dari bisnis ayahku yang akhirnya kembali meroket. Om Wisnu sendiri belum terlalu tua, karena baru seusia Om Ardly, adik ayah yang paling bungsu, sekitar 35 tahunan. Tapi buat aku yang masih kuliah, tentunya jarak kami menjadi cukup jauh, terpaut lebih dari 10 tahun.

“Jaga dirimu dan jika kamu berubah pikiran, aku masih akan tetap ada di sekitarmu.”

“Aku rasa tidak akan berubah, Mas. Maaf, sekali lagi maafkan aku.” kali ini aku tak kuasa menahan cairan bening di sudut mataku yang mulai jatuh bergulir di atas pipiku. Akhirnya aku berlari, kutinggalkan dia yang masih berdiri termangu di sana. Aku tak peduli beberapa mata memandangku dengan penuh penasaran. Di kejauhan kulihat Om Ardly sudah berdiri di pintu gerbang kampus. segera kuhapus air mata dan kusunggingkan senyum meskipun agak terpaksa.

Hari ini.

Hatiku berdesir ketika kutatap layar laptop dan melihat foto profil Facebook-mu di situ. Namun kali ini kau tidak sendiri. Di sampingmu berdiri seorang wanita dengan wajah seperti orang Eropa Timur sambil menggendong seorang bocah berusia sekitar 3 tahun. Tampak senyum bahagia di sana. Aku tidak tahu harus turut bahagia atau cemburu, walaupun saat ini aku sudah tidak berhak untuk cemburu kepadamu. Kutelusuri profilmu dan aku terhenyak, karena kulihat bahwa saat ini kau tinggal di Bali, tempat di mana aku berlibur saat ini.

Entah setan mana yang merasukiku sehingga kuberanikan diri untuk membuka chat kepadamu dan mulai menjalankan jari jemariku di atas papan ketik.

Hai…. Masih inget aku gak?

Hatiku berdegup keras menantikan responmu.

Ya, mana bisa aku lupa. Gimana kabarmu? Kabar keluarga gimana? 

Ah, kau masih ingat dan masih seperti dulu, hangat dan ramah.

Sekarang tinggal di Bali? Kabar keluargaku baik-baik dan sehat semua. Kamu sudah berkeluarga juga ya, Mas? Berapa putranya?

Ah, pertanyaanku formil sekali. Tapi mungkin cukup wajar sebagai seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Meskipun kau bukan orang lain bagiku.

Ya, aku sudah berkeluarga. Putri kami baru satu, berumur 3 tahun. Anakmu sudah berapa?

Sial! Aku sudah menduga kau akan menanyakan itu. Dan aku sebal sekali untuk menjawabnya.

Kami belum dikaruniai momongan, Mas. Masih berusaha nih.

Setelah obrolan yang panjang dan penuh basa basi, lalu aku pun setuju untuk kita saling bertemu di salah satu kafe di Kuta.

Aku datang bersama suamiku Mas Wisnu, seseorang yang dulu menjadi penghancur hubungan kita. Seseorang yang membuyarkan segala angan yang telah kita susun bersama. Sebenarnya dia adalah orang yang baik dan penuh perhatian padaku. Hanya saja aku tidak benar-benar mencintainya, karena sesungguhnya cintaku hanya untuk seseorang yang hanya aku saja yang tahu. Pernikahan yang kujalani menjadi sebuah formalitas belaka, sebagai darma baktiku kepada orang tua. Oleh karenanya aku tidak heran mengapa sampai sekarang kami belum dikaruniai momongan. Pikiran dan hatiku tak pernah sejalan, dan itu cukup membuat aku stres.

“Hai Eva, apa kabar? Wah kamu tidak banyak berubah ya? Masih seperti yang dulu.” sapamu di depan kafe masih dengan senyum manis itu. Namun kini kau tampak lebih gemuk dibanding dulu. Mungkin benar bahwa saat ini kau telah menemukan kebahagiaan.

“Aku baik. Masa sih? Atau jangan-jangan kamu ngejek aku ya, Mas?”

“Aku serius kok. Oya, kenalkan ini istriku, Lidya. Dia berdarah campuran antara Indonesia dan Khazakstan, jadi kadang-kadang Bahasa Indonesianya agak susah. Tapi sekarang sudah mendingan. Siapa dulu yang ngajarin, ya honey?” katamu bercanda sambil tanganmu memeluk pinggang wanita cantik itu. Ah, mengapa aku masih merasa cemburu? Kau bukan milikku lagi sekarang. Aku pun segera menyambut uluran tangan wanita cantik itu.

“Dan ini kenalkan suamiku, Mas Wisnu. Mas Wisnu ini Mas Sandy teman kuliahku dulu.” Mas Wisnu juga segera menjabat tanganmu dan istrimu.

Hari ini kita bertemu lagi, berbincang dan bercanda namun dengan keadaan yang berbeda. Kita tak lagi bersama. Kita ada di antara mereka yang saat ini justru menjadi orang terdekat kita. Masa lalu mustahil untuk berubah, mungkin inilah jalan yang harus aku tempuh. Berpisah denganmu dan bertemu lagi hanya untuk memastikan bahwa saat ini kau bahagia. Seperti yang kuucapkan lima tahun yang lalu yaitu, “Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan dan berikan selama ini, Mas. Ya, aku juga berharap semoga kau mendapatkan yang terbaik.”

Tampaknya itu sudah menjadi kenyataan sekarang. Aku bisa melihat rona kebahagiaan di matamu saat berada di sisinya. Sedangkan aku, biarlah hanya aku sendiri yang tahu. Toh, ini semua adalah jalan yang sudah kupilih. Ah, seandainya waktu itu…

 
1 Comment

Posted by on October 17, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , , , , , ,

One response to “Seandainya waktu itu…

  1. rina sikumbang

    October 23, 2012 at 6:04 am

    cerita dengan kata seandainya 🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s