RSS

Weird Morning

18 Dec

Pagi ini tidak ada yang spesial, kujalani rutinitas seperti biasa. Lokasi rumah yang berada di pinggiran ibu kota memaksaku untuk selalu berangkat lebih pagi, dan harus berjibaku dengan lalu lintas metropolitan yang semakin tidak karuan. Dari rumah naik shuttle bus menuju ke kawasan Sudirman untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan TransJakarta, yang katanya merupakan mass rapid transport paling paporit di sini. Katanya menjanjikan kenyamanan, tapi nyatanya kakiku sering pegal-pegal karena terlalu banyak berdiri. Selain itu menjanjikan keamanan, tapi nyatanya ada saja orang yang HP atau BB nya hilang plus kalau ada wanita cantik nan seksi bisa sekalian digerayang-gerayang.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dan diselingi rasa kantuk sampai kepalaku terantuk-antuk ke kaca jendela bus yang sedikit buluk, akhirnya tiba juga waktuku untuk turun. Masih dengan nyawa yang belum terkumpul semua, aku berjalan menyusuri jembatan penyeberangan menuju halte TransJakarta yang berada di tengah-tengah separator jalan.

Di kota besar seperti Jakarta ini, tampak orang-orang selalu terburu-buru seolah dikejar waktu. Waktu sehari semalam selama 24 jam ini rasanya tidak cukup untuk melaksanakan aktivitas mereka. Lalu mau minta sehari berapa jam sih, supaya mereka dapat menyelesaikan pekerjaan plus beristirahat? Seperti yang kualami sehari-hari, perjalanan yang kutempuh ke tempat kerja saja sudah sangat menyita waktu. Belum lagi sampai di kantor dihadapkan pada berbagai masalah yang tak kunjung usai. Grrrhhh… ingin rasanya aku berhenti sejenak, dan beristirahat seraya memandang orang-orang yang sedang berlari seolah dikejar waktu. Tapi bukankah jika seperti itu artinya waktu berhenti? Paling tidak buatku, dan itu artinya… MATI!!! Hiii… ngeri deh membayangkannya.

BRUK!!! Ketika aku berjalan di jembatan penyeberangan, tiba-tiba aku ditabrak oleh seseorang. Ditabrak, ya aku ditabrak, karena saat aku berjalan aku masih memakai kedua mataku untuk melihat jalan dan itu artinya bukan aku yang menabrak. Spontan aku setengah berteriak kepada orang itu, yang sepertinya seorang pria separuh baya, dengan rambut yang sudah mulai memutih, “Hati-hati kalau jalan, Pak! Liat-liat di depannya ada orang atau tidak!”

“I.. Iya… maaf mas, saya gak sengaja.” jawabnya singkat.

Tapi dasar Jakarta, sebuah kota yang keras sehingga menuntut penghuninya untuk selalu waspada karena bahaya akan selalu mengancam di mana saja, bahkan tanpa pandang bulu dan tidak mengenal toleransi. Laki-laki itu pun melanjutkan langkahnya, sementara aku secara insting langsung memeriksa kantong dan tempat HP serta tasku. Dan JRENG!!!! Dompetku sudah tidak ada di tempatnya lagi. Pikiranku langsung tertuju pada laki-laki separuh baya tadi. Pasti dia pencopet. Adrenalinku langsung memuncak, kupikir dia pasti belum jauh. Langsung aku berlari ke arah dia pergi, dan benar saja aku masih bisa melihatnya.

Lima langkah… tiga langkah… satu langkah dan aku langsung menerjang pria itu. Aku memang sengaja tidak berteriak copet, karena khawatir dia nanti malah keburu lari. Alhasil kakiku berhasil mendarat di punggungnya, dan dia pun jatuh tersungkur. Belum sempat dia bicara, langsung kulayangkan sebuah bogem mentah ke arah mulutnya. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Belum puas, kusodok ulu hatinya dengan lututku. Dan terakhir kubenturkan kepalanya ke besi jeruji pembatas jembatan. kini, darah segar kembali meleleh dari pelipisnya.

“Hei, kamu pencopet ya?! Mana dompetku, ayo kembalikan!!!” teriakku seperti orang kesetanan. Aku tak peduli orang-orang yang lewat jembatan semua memandangiku.

“D..d..dompet apa, mas? Saya nggak tahu.” jawabnya terbata-bata.

“Dasar copet! Sudah tertangkap nggak mau ngaku!!!” aku semakin jengkel, karena dia tidak mau mengakui perbuatannya.

Kucengkeram kerah bajunya, kugoyang-goyangkan badannya sekuat tenaga karena rasa emosi yang meluap-luap. Dan pluk! Dompetku jatuh dari balik bajunya. Begitu kulihat dompetku jatuh, kulempar dia ke sisi jembatan, dan aku pun segera mengambil dompetku. Naas, ternyata lemparanku yang terlalu kuat membuatnya terpelanting melewati pagar pembatas jembatan. Sesaat tangannya mampu bergelantung di salah satu batang besi, namun tidak mampu bertahan lama. Akhirnya tubuhnya melayang dan menghantam aspal serta disambut sebuah Kopaja yang kebetulan sedang melintas.

Aku melongok ke bawah, kuperhatikan tubuh pria itu sempat terpelanting beberapa meter, untuk kemudian tidak bergerak lagi. Kulihat darah berceceran di bawah sana. Setelah kulihat dia tidak bergerak lagi, aku pun melanjutkan perjalanan menuju kantorku. Di sepanjang jembatan penyeberangan itu kulihat sudah ramai orang berkerumun. Dan di bawah pun kemacetan sudah mulai terjadi. Orang-orang yang akan pergi bekerja itu malah menonton sesosok tubuh yang kini tengah tergolek di tengah jalan itu. Tak kulihat satupun dari mereka yang berinisiatif menolong pria itu. Inikah gambaran yang sebenarnya dari sebuah kota Jakarta? Ketika apatisme sudah menghinggapi setiap penghuninya.

Saat aku melanjutkan perjalananku dan melintasi sebuah gang kecil di antara dua gedung pencakar langit, aku tidak sengaja mendengar percakapan antara seorang ibu dengan putrinya yang masih kecil.

“Bapak mana, Bu? Aku sudah lapar…. Perutku sudah melilit dari tadi…” Anak itu merengek-rengek dengan suara yang sudah hampir tidak terdengar.

“Sabar, ya nak. Bapakmu tadi katanya mau mencarikanmu sebungkus nasi uduk, sebentar lagi juga kembali. Bapak tidak mungkin meninggalkan kita, nak.” sang ibu menjawab penuh kelembutan dan seolah ingin memberikan ketenangan pada putri semata wayangnya itu.

“Tapi kalau membeli nasi kan tidak mungkin selama ini, Bu.” anak itu kembali merengek.

“Tunggulah sebentar lagi nak. Tadi kata bapakmu, dia akan membelikanmu nasi di seberang jalan, nak. Sebentar lagi juga dia pasti sampai.” ibunya kembali menenangkan walaupun ada sedikit gurat-gurat kecemasan di wajahnya.

Tak terasa aku pun sudah sampai di ruanganku yang tentunya sudah menunggu setumpuk pekerjaan yang harus kuselesaikan secepatnya. Karena ini sudah memasuki akhir tahun, dan berarti harus berakhir pula semua pending-an pekerjaanku. Oh, kehidupan…

 
2 Comments

Posted by on December 18, 2011 in Cerpen, Fiksi

 

Tags: , , , , ,

2 responses to “Weird Morning

  1. Romy

    June 5, 2012 at 7:10 am

    begitulah namanya kehidupan.. berjalan terus kyk kereta.. 😛

     
  2. rina sikumbang

    October 23, 2012 at 10:23 am

    Endingnya membawwa emosi …

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s