RSS

Isyarat

Sebulan ini tidak lagi menjodohkan kopi panas dengan hujan, embun di jendela, ataupun hampa. Namun, menjodohkannya dengan apapun juga. Pagi ini sang kopi panas berjodoh dengan meja yang rapi, donat dan juga senyum di layar monitor. “Cukup kita saja yang tau” ujarnya pada uap kopi.
Perlahan disesapnya kopi itu. Aromanya menggoda, melebihi Bvlgari sekalipun. Damai. Sedamai hati ini menatap satu punggung dari kejauhan. Biarkan alam yang menyampaikan isyarat tanpa paksa.

Waktu yang akhirnya menyadarkan akan adanya kebahagiaan tanpa pamrih. Mengaguminya dari jauh tanpa mengingininya. Mendoakannya agar kelak selalu bahagia dengan hidupnya.

Tuhan, biarkan dia bahagia dan izinkan aku bahagia dengan caraku.

Uap kopi mulai hilang, tapi senyum yang terbentuk masih sama. Menikmati setiap rasa yang ada dan membiarkannya memengaruhi organ tubuh lain untuk bisa merespon positif segala asa. Beda rasa dan asa pun terasa ambigu. Perlahan mouse bergerak untuk men-klik dua kali Hanya Isyarat. Mengalun indah menemani kopi pagi. Terima kasih Dee, kini aku merasa tak sendiri.

[terinspirasi dari Hanya Isyarat, Dewi Lestari]

 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2013 in Fiksi

 

Tags: ,

Hati dan logika

Seperti inikah rasanya menjadi yang kedua?
Logika berteriak tidak mau jadi yang kedua.
Tapi hati berkompromi atas nama cinta.

Saat kau memegang tanganku, apakah yang dipikiranmu hanya aku?
Saat kau memeluk pinggangku, apakah kau yakin yang kau peluk itu aku?

Aku mampu memberikan apa yang kau butuhkan.
Aku sanggup memberikan seluruh hati ini untukmu.
Tak bisakah kau hanya buatku?

Kau bilang sayang.
Kau bilang peduli.
Kau bilang aku segalanya untukmu.
Tapi kenapa kau masih bersama dia?
Tidak cukupkah jika hanya aku?

Ingin rasanya melepaskan diri darimu.
Ingin rasanya berlari meninggalkanmu.
Ingin rasanya pergi tanpa harus menoleh lagi ke arahmu.

Tapi hati memilih untuk diam disini.
Hati rela merasa sakit hanya untuk bisa bersamamu.

Dasar bodoh!!!
Teriakan di kepala tak sanggup mengalahkan keinginan hati.

Aku tahu ini salah.
Aku tahu ini hanya akan menyakiti hati.
Tapi, biarlah aku mengecap kebahagiaan semu ini.
Karena saat ini, aku hanya ingin kamu.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2013 in Uncategorized

 

Tags: ,

binary

Berhenti, kursor yang berkedip perlahan hanya ditatap seadanya yang seakan ikut sabar menunggu untuk menerima masukan dari si pengguna. Si pengguna hanya diam, dengan pikiran seakan-akan menembus batas nyata LCD laptopnya. Diam, hampa, bahkan tidak ada satu suara pun yang menemaninya.

Lalu perlahan pandangannya tampak berbeda, sedikit buram, kemudian jernih karena penyebab buram sudah turun tanpa sengaja. “Mungkin itu yang namanya air mata”, pikir si LCD. “Menjauhlah, jangan sampai kena aku”, doa si keyboard diam-diam. Lalu si pengguna menunduk, terisak dan menelungkupkan wajahnya, berhenti menatap kami, si LCD, kursor, keyboard, dan periferal sekitarnya yang ikut diam. Mencoba mendeteksi si pengguna. Mereka hanya tau 0 dan 1, sulit mendeteksi area abu-abu si pengguna.

Lalu perlahan si kursor mulai gembira karena bisa bergerak lain selain kedip sederhana tadi. Lalu gembira berubah menjadi sedih, entah apa yang merasuki si kursor, seakan mulai mengerti area abu-abu yang sekarang dimengerti kursor.
“Dia sedang sedih, kasihan, seharusnya ada orang yang menghiburnya, mengembalikan keceriaannya, mengerti dirinya dan membuatnya kembali tertawa tanpa beban. Dia hanya ingin merasa dibutuhkan, seperti kita tadi yang menunggu dibutuhkan olehnya”, si kursor bercerita kepada teman-temannya. Mereka membentuk titik dua kurung buka dengan kode ASCII yang mereka mengerti. Masih menatap si pengguna yang perlahan mencoba mengembalikan emosinya dengan membuka dokumen-dokumen terdahulu, si cache harus menghubungi memory dan ternyata memory saja tidak bisa bekerja sendiri, dokumen lama, entah dimana, “eh harddisk cobalah dicek!” ujar memory emosional. Si harddisk bergerak cepat, hingga akhirnya si pengguna berhasil membuka ‘memory’. Semua terdiam, menunggu si pengguna berreaksi. Lalu ada senyum. Semua lega. Namun senyum itu tidak lama, tidak apa, yang penting dia sudah tersenyum, setidaknya sudah bisa memikirkan bentuk lain. Dan mereka pun bekerja sama membentuk titik dua kurung tutup. Bergembira sejenak atas senyum yang mereka lihat.

Terkadang hanya perlu dimengerti secara searah dan tidak perlu menyeluruh, seperti mereka yang merasa cukup dengan melihat penggunanya tersenyum lagi. Itu saja dulu, cukup, karena jika senyum itu di-looping tentu lama-kelamaan akan membentuk kebahagiaan. Sulitkah membuat seseorang tersenyum, sedikit saja. Kalau memang iya, jangan diteruskan untuk tidak lagi bisa membuatnya tersenyum. Beranilah untuk tidak lagi melakukan hibernate, mungkin sudah saatnya memilih shut down?!

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2012 in Uncategorized

 

Suara Dari Masa Lalu 2

Lanjutan dari kisah sebelumnya

Aku termangu di depan sebuah rumah besar dengan pagar besi berwarna putih. Jantungku berdegup kencang, sial, seperti itulah ketika dulu pertama kali aku datang ke rumah ini. Dengan sedikit gemetar aku pun menekan tombol bel yang ada di balik pagar. Kriiiinggg!!! Tak berapa lama muncullah wanita setengah baya dengan menggunakan daster rumahan. Sepertinya dia adalah pembantu barunya.

“Ada apa, Pak?” tanyanya dari balik pagar.

“Mmm, Dhea-nya ada, Bik?” sekali lagi sial! Setua itukah diriku sampai harus dipanggil ‘Pak’?

“Oh, ada. Non Dhea ada. Maaf, Bapak ini siapa ya?” tanyanya setengah menyelidik. Aku pun maklum mengingat modus operandi kejahatan saat ini mulai bermacam-macam.

“Saya temannya Dhea, tadi udah janjian kok.” jawabku meyakinkan.

Tiba-tiba dari dalam terdengar sesorang berseru, dan suaranya sangat aku kenal. Suara yang begitu familiar di telingaku. “Siapa itu, Bik?”

“Ini Non, katanya temannya non Dhea dan katanya juga udah janjian.”

“Suruh masuk aja, Bik.”

“Baik, Non.” Akhirnya si bibik membuka pintu pagar dan mempersilahkan aku masuk.

Saat aku masuk, kulihat sudah ada seseorang yang berdiri di teras. Ah, dia masih seperti dulu. Rambutnya yang lurus dan panjang dia ikat kebelakang dengan sederhana namun tetap membuat hati ini berdebar. Wajahnya yang ayu dengan senyum nan manis masih memancarkan pesona itu. Aku pun mulai kikuk dibuatnya. “Ayo Kak, masuk dulu.” suaranya memecah kebengonganku.

“Eh, iya.” jawabku singkat. Aku pun segera menyerahkan bingkisan yang sudah kusiapkan untuk oleh-oleh. “Ini sedikit oleh-oleh dari Jakarta”

“Wah makasih banyak ya, Kak. Ayo silahkan duduk dulu ya, Kak.” kami pun memasuki ruang tamu. Dia masuk ke dalam untuk meletakkan bingkisan dariku di ruang tengah. Hmm, rumah ini tidak banyak berubah. Di dinding kulihat banyak sekali foto yang terpajang. Yang menarik perhatianku adalah foto dia dengan seorang anak kecil. Apakah itu anaknya? Tapi mengapa aku tidak melihat foto dia dengan seorang laki-laki yang mungkin suaminya?

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , ,

Suara Dari Masa Lalu 1

Kutatap birunya laut dan kuhirup udara yang anyir ini dalam-dalam. Berbagai hal berkecamuk di alam pikirku. Saat ini aku akan pulang ke kampung halamanku, tapi entah mengapa seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Selain rasa rindu pada ayah dan ibuku, ada hal lain yang selalu menghantuiku. Ya, sesuatu dari masa lalu.

Sudah hampir 5 tahun aku tidak pulang karena harus merantau ke ibu kota. Rasa rinduku terhadap keluargaku di tanah kelahiran sudah tak terbendung lagi. Aku bahkan sudah tidak bisa membayangkan bagaimana wajah si Hamzah adikku yang saat aku berangkat dulu masih ada dalam gendongan ibuku. Lalu, bagaimana ya ayah sekarang, apakah beliau masih segagah dan setegap dulu? Beliau adalah seorang mandor di sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit. Badannya yang tegap sangat mendudung dalam pekerjaannya. Beliau termasuk orang yang disegani oleh orang-orang di kampung kami. Sedangkan ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali membuat jajanan untuk kemudian dititipkan di warung-warung terdekat.

Di kejauhan kulihat mulai tampak ada bayangan hitam, ah daratan. Berarti sebentar lagi aku sampai. Meskipun dari pelabuhan menuju rumahku masih menempuh perjalanan selama 4 jam lagi, namun rasanya aku sudah dekat sekali dengan rumah. Kuambil handphone dari saku celanaku lalu kucari sebuah nama, ya, nama dari masa lalu. Sebenarnya aku ingin menelepon, namun akhirnya niat itu kuurungkan. Akhirnya aku hanya mengirim sms:

“De, hari ini aku pulang. Sebentar lagi aku sudah sampai pelabuhan.”

Kutunggu 5 menit, 10 menit, ah tak kunjung ada balasan. Yah, mungkin dia sedang sibuk, karena terakhir kudengar kabar bahwa dia telah bekerja di sebuah Puskesmas dan menjadi seorang perawat. Atau jangan-jangan dia telah lupa padaku. Mungkin aku berharap terlalu banyak.

Teeeetttttt!!!! Suara klakson kapal tanda sudah bersandar mengagetkanku dari lamunan. Orang-orang pun sudah berdesak-desakan ingin segera keluar. Tak lama berselang dari pintu-pintu kapal mereka berhamburan keluar. Bah, macam orang yang sedang muntah saja kapal itu. Aku memilih bersantai dulu, menunggu suasana agak lengang, karena di antara orang-orang yang sedang berdesak-desakan itu terkadang ada pihak yang berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu pencopet.

Turun dari kapal aku pun segera berjalan ke terminal bus dan segera naik bus yang menuju ke arah kampung halamanku. Ah, sudah semakin dekat saja aku dengan rumah.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, sampailah aku di mulut gang rumahku. Lalu dengan pasti kuayunkan langkahku menuju rumahku, rumah tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja sekarang rumah mungil itu tampak lebih bersih. Dan masih dikelilingi oleh pohon akasia yang sengaja ditanam oleh ayahku sebagai penyejuk. Tampak di depan rumah seorang anak kecil sedang asyik bermain mobil-mobilan kayu.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , ,

Lalu bertemu..

Ah Bogor..masih begini saja, banyak angkot dan macet.
Aku memilih kembali kesini, menjadikan Bogor pilihanku, meneruskan cita yang tertunda. Kampus IPB tidak banyak berubah, tetap unik jika hujan kapuk tiba. Aku tersenyum.
Dan seharusnya aku tidak lupa satu hal, Bogor si kota hujan. Tiba-tiba saja hujan datang, rintiknya semakin deras. Mengaduk isi tas berharap payung muncul tiba-tiba didalamnya. Berlari menuju halte bis. Semakin deras. Kebasahan.
“Seharusnya aku galupa bawa payung” ujarku sendiri, sambil mengangin-angini baju agar tidak lepek. Menatap sekitar..dan..terhenti pada sosok disampingku, sedang diam tampak terkejut, atau masih terkejut?!.
“Bagas?!” Sapaku.
“Yuri?!”
Kami diam, saling tatap, mungkin sibuk dengan kenangan masing-masing.
“Apa kabar?”
“Baik, kamu?”
“Sama, baik juga” Ujarku sambil mencoba tersenyum. “Sedang di Bogor?!”
“Sudah kembali menetap di Bogor” dia tersenyum.
“Syukurlah”
Lalu kembali hening.
“Bis kamu datang”
“Oh iya..” Ujarku sambil menoleh ke arah lain “duluan ya” kuanggukan kepala tanda pamit.
“Hati-hati” ujarnya masih dengan tersenyum simpul.

Kulambaikan tangan dari balik jendela bis yang berembun. Dia membalas.

Empat tahun sudah, dan senyum itu masih sama, masih meneduhkan. Empat tahun bukan waktu yang singkat, lalu kenapa terasa kembali rasa yang sama. Empat tahun tanpa sapa tanpa pula mencari tau kabarnya. Hujan mendukungku mengingat yang lalu. Aku terdiam, lalu menyeka airmataku.

 
Leave a comment

Posted by on October 27, 2012 in Fiksi, Uncategorized

 

Seandainya waktu itu…

Lima tahun yang lalu.

“Kayanya kita cukup sampe di sini aja, Mas.” kataku sore itu di depan kampus.

“Tapi apa salahku? Kayanya aku gak pernah berbuat salah. Please, aku butuh penjelasan. Jangan cuma sepihak gini dong.” protesmu.

“Gak ada yang salah, Mas. Aku hanya merasa ini semua harus berakhir. Semoga masing-masing dari kita mendapatkan yang terbaik.” kataku sok bijaksana.

“Baiklah jika itu maumu, Eva. Tapi ingat, aku menerima keputusan ini bukan karena aku lemah dan tidak mau mempertahankan hubungan ini. Tapi aku menerima ini karena aku sayang kamu dan sangat menghormati keinginanmu. Dan dari detik ini sampai entah sampai kapan aku akan selalu menyayangimu.” kata-katamu begitu mantab, bijaksana, dan menenangkan seperti biasanya. Tapi kali ini aku harus bertahan, tidak boleh tergoda lagi. Keputusanku kali ini sudah bulat dan wajah tampan nan teduh itu tak boleh menggoyahkanku.

“Dan kuharap meskipun hubungan ini sudah berakhir kau tidak akan membenciku. Karena walau bagaimanapun kau adalah seseorang yang pernah mengisi hidupku.” kataku pelan.

“Justru baru saja aku ingin meminta hal yang serupa. Maafkan jika selama ini aku telah banyak menyusahkanmu. Dan semoga kau mendapatkan yang terbaik.” jawabmu masih dengan wajah yang tenang namun tak dapat menyembunyikan kegalauan yang sedang kau hadapi.

“Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan dan berikan selama ini, Mas. Ya, aku juga berharap semoga kau mendapatkan yang terbaik” suaraku sedikit bergetar karena berusaha untuk tetap tegar meskipun jauh di dalam hatiku luruh tak bertumpu pada sesuatu apa pun.

“Bolehkah aku mengantarmu pulang, paling tidak untuk kali ini saja?” kau memohon.

“Gak, Mas. Maaf aku nanti sudah dijemput sama Omku. Terima kasih atas tawaranmu, tapi sekali lagi tidak.” aku tak berani memandangmu waktu itu apalagi menerima tawaranmu karena aku takut keputusanku ini akan berubah lagi. Maafkan aku karena tidak jujur padamu, meskipun sebenarnya aku masih sayang padamu. Semua ini terpaksa kulakukan karena rasa sayangku kepada orang tuaku meskipun harus mengorbankan dan menghancurkan hati dan perasaanku. Karena jasa mereka lah aku bisa seperti ini, hampir menjadi seorang sarjana.

Rencana pernikahanku dengan Om Wisnu sudah tidak dapat ditunda apalagi dibatalkan. Keluarga kami sangat berhutang budi pada beliau. Ini semua tentang menjaga wibawa  dan membayar hutang budi keluarga. Bisnis ayah yang hampir bangkrut itu tertolong oleh bantuan modal yang diberikan Om Wisnu. Dari situlah ayah merasa sangat berhutang budi kepada Om Wisnu, dan akulah yang beliau gunakan untuk membayar hutang itu. Aku sendiri tidak menyalahkan ayahku, karena aku berhasil kuliah juga karena hasil dari bisnis ayahku yang akhirnya kembali meroket. Om Wisnu sendiri belum terlalu tua, karena baru seusia Om Ardly, adik ayah yang paling bungsu, sekitar 35 tahunan. Tapi buat aku yang masih kuliah, tentunya jarak kami menjadi cukup jauh, terpaut lebih dari 10 tahun.

“Jaga dirimu dan jika kamu berubah pikiran, aku masih akan tetap ada di sekitarmu.”

“Aku rasa tidak akan berubah, Mas. Maaf, sekali lagi maafkan aku.” kali ini aku tak kuasa menahan cairan bening di sudut mataku yang mulai jatuh bergulir di atas pipiku. Akhirnya aku berlari, kutinggalkan dia yang masih berdiri termangu di sana. Aku tak peduli beberapa mata memandangku dengan penuh penasaran. Di kejauhan kulihat Om Ardly sudah berdiri di pintu gerbang kampus. segera kuhapus air mata dan kusunggingkan senyum meskipun agak terpaksa.

Hari ini. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on October 17, 2012 in Cerpen, Fiksi, Roman

 

Tags: , , , , , , ,

dingin

Malam ini dingin, sama seperti beberapa malam sebelumnya. Malam yang sudah aku pilih agar menjadi lebih dingin dari biasanya. Ah ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Perihal melepas genggaman. Menikmati hari sendiri. Berkutat dengan rutinitas, bacaan baru, pikiran baru. Tapi lantas rasa itu datang lagi. Rasa ingin berbagi, rasa ingin kembali menggenggam. Diam. Hanya bisa menatap ke luar jendela. Di luar sudah sepi, sama seperti rasa yang ada malam ini.

“Ada kekurangan yang ga bisa di terima.” Ucapku kala itu.

Lalu kami diam. Dan aku tau, ada yang salah dengan perkataanku. Entah terlalu frontal, menuntut, tidak berprasaan, atau entah apa. Aku hanya ingin 1 atau 0, cukup. Tapi yang aku rasa sekarang 0,5. Apa aku harus memutuskan sendiri, atau perlu dibicarakan lagi. Bagaimana membicarakannya lagi? Sejak saat itu pun kamu seperti diam. Diam. Diam. Dan hanya diam. Semua kembali kaku dan seadanya.

“Aku pergi, lain waktu mungkin kita bisa bertemu lagi.” Ucapmu beberapa waktu kemudian.

Lalu aku yang hanya bisa diam. Tersenyum perlahan dan menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa digenggam kembali.

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2012 in Fiksi

 

Weird Morning

Pagi ini tidak ada yang spesial, kujalani rutinitas seperti biasa. Lokasi rumah yang berada di pinggiran ibu kota memaksaku untuk selalu berangkat lebih pagi, dan harus berjibaku dengan lalu lintas metropolitan yang semakin tidak karuan. Dari rumah naik shuttle bus menuju ke kawasan Sudirman untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan TransJakarta, yang katanya merupakan mass rapid transport paling paporit di sini. Katanya menjanjikan kenyamanan, tapi nyatanya kakiku sering pegal-pegal karena terlalu banyak berdiri. Selain itu menjanjikan keamanan, tapi nyatanya ada saja orang yang HP atau BB nya hilang plus kalau ada wanita cantik nan seksi bisa sekalian digerayang-gerayang.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dan diselingi rasa kantuk sampai kepalaku terantuk-antuk ke kaca jendela bus yang sedikit buluk, akhirnya tiba juga waktuku untuk turun. Masih dengan nyawa yang belum terkumpul semua, aku berjalan menyusuri jembatan penyeberangan menuju halte TransJakarta yang berada di tengah-tengah separator jalan.

Di kota besar seperti Jakarta ini, tampak orang-orang selalu terburu-buru seolah dikejar waktu. Waktu sehari semalam selama 24 jam ini rasanya tidak cukup untuk melaksanakan aktivitas mereka. Lalu mau minta sehari berapa jam sih, supaya mereka dapat menyelesaikan pekerjaan plus beristirahat? Seperti yang kualami sehari-hari, perjalanan yang kutempuh ke tempat kerja saja sudah sangat menyita waktu. Belum lagi sampai di kantor dihadapkan pada berbagai masalah yang tak kunjung usai. Grrrhhh… ingin rasanya aku berhenti sejenak, dan beristirahat seraya memandang orang-orang yang sedang berlari seolah dikejar waktu. Tapi bukankah jika seperti itu artinya waktu berhenti? Paling tidak buatku, dan itu artinya… MATI!!! Hiii… ngeri deh membayangkannya.

BRUK!!! Ketika aku berjalan di jembatan penyeberangan, tiba-tiba aku ditabrak oleh seseorang. Ditabrak, ya aku ditabrak, karena saat aku berjalan aku masih memakai kedua mataku untuk melihat jalan dan itu artinya bukan aku yang menabrak. Spontan aku setengah berteriak kepada orang itu, yang sepertinya seorang pria separuh baya, dengan rambut yang sudah mulai memutih, “Hati-hati kalau jalan, Pak! Liat-liat di depannya ada orang atau tidak!”

“I.. Iya… maaf mas, saya gak sengaja.” jawabnya singkat.

Tapi dasar Jakarta, sebuah kota yang keras sehingga menuntut penghuninya untuk selalu waspada karena bahaya akan selalu mengancam di mana saja, bahkan tanpa pandang bulu dan tidak mengenal toleransi. Laki-laki itu pun melanjutkan langkahnya, sementara aku secara insting langsung memeriksa kantong dan tempat HP serta tasku. Dan JRENG!!!! Dompetku sudah tidak ada di tempatnya lagi. Pikiranku langsung tertuju pada laki-laki separuh baya tadi. Pasti dia pencopet. Adrenalinku langsung memuncak, kupikir dia pasti belum jauh. Langsung aku berlari ke arah dia pergi, dan benar saja aku masih bisa melihatnya.

Lima langkah… tiga langkah… satu langkah dan aku langsung menerjang pria itu. Aku memang sengaja tidak berteriak copet, karena khawatir dia nanti malah keburu lari. Alhasil kakiku berhasil mendarat di punggungnya, dan dia pun jatuh tersungkur. Belum sempat dia bicara, langsung kulayangkan sebuah bogem mentah ke arah mulutnya. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Belum puas, kusodok ulu hatinya dengan lututku. Dan terakhir kubenturkan kepalanya ke besi jeruji pembatas jembatan. kini, darah segar kembali meleleh dari pelipisnya.

“Hei, kamu pencopet ya?! Mana dompetku, ayo kembalikan!!!” teriakku seperti orang kesetanan. Aku tak peduli orang-orang yang lewat jembatan semua memandangiku.

“D..d..dompet apa, mas? Saya nggak tahu.” jawabnya terbata-bata.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on December 18, 2011 in Cerpen, Fiksi

 

Tags: , , , , ,

Aku ingin secangkir kopi dan sebentuk senyummu..

Pagi ini..pagi yang cerah..tidak lagi ada jus apel, jus jeruk, ataupun jus melon. Tidak ingin lagi jus sirsak ataupun jus mangga. Warna warni itu tidak lagi ku perlukan untuk mewarnai hariku. Aku tau, pagi ini tidak lagi menjadi pagiku yang monoton. Ini kali pertama, menyetir sejauh ini, sendiri. Ke tempat dimana temu dan pisah menjadi satu. Mungkin senyumku sudah semanis senyum Colby Calliat, yang setia menyanyikanku seluruh lagunya.

Aku sampai, akhirnya.
Melaju pelan sambil membaca petunjuk jalan, semoga tidak kesasar.
Udaranya sejuk, bersahabat.
Here I am. Tersenyum dan melangkah pasti.
Cocok sudah tempat ini dengan catatan di ponselku.

Dan bahagianya dimengerti sebegininya. Tepat di sebrang sana ada Kedai Kopi. Tempat yang tepat untuk menunggu.
Serasa sudah seabad tidak minum kopi. Memesan kopi favoritku.
Pesananku datang, ku hirup dalam-dalam aroma kopi tersebut. Ah harumnya. Aku yakin kopi ini akan jauh lebih nikmat dari biasanya.
Mengaduk perlahan, memandang pintu masuk sesekali, dan lalu kembali menatap keluar-melalui jendela besar. Aku yakin satu jam sama sekali tidak akan lama. Tepat seperti yang dibilang.

Ini pemandangan yang tidak biasa bagiku. Menatap lalu lalang orang lengkap dengan koper dan ransel. Entah alasan dinas kantor, bersenang-senang, atau apa lagi, yang jelas itu bisa jadi media refreshing, berbahagialah.

Aku terpaku menatap mereka.
Pikiranku berjalan mundur entah kemana.
Seakan tidak percaya kalau aku bisa sejauh ini.
Menjaga rasa dan asa.
Menepis ambigu dan ragu.

“Hai..apa kabar?” Sapaan yang mengagetkanku.
Aku berdiri, tersenyum, dan menyodorkan tangan seraya berkata “never been..”
“I’m back..dan aku ga butuh tangan kecilmu..” bisiknya.
“..better” lanjutku, terdiam, merasakan pelukannya.
“Aku kangen..” ujarnya sambil melepaskan pelukannya untuk kemudian menepuk pipiku dan tersenyum.

Terimakasih atas pagi ini, sempurna, dengan kopi dan juga senyummu.. 🙂


:: kedai kopi, bandara, menunggu kepulanganmu. ::

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2011 in Fiksi