RSS

Weird Morning

Pagi ini tidak ada yang spesial, kujalani rutinitas seperti biasa. Lokasi rumah yang berada di pinggiran ibu kota memaksaku untuk selalu berangkat lebih pagi, dan harus berjibaku dengan lalu lintas metropolitan yang semakin tidak karuan. Dari rumah naik shuttle bus menuju ke kawasan Sudirman untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi dengan menggunakan TransJakarta, yang katanya merupakan mass rapid transport paling paporit di sini. Katanya menjanjikan kenyamanan, tapi nyatanya kakiku sering pegal-pegal karena terlalu banyak berdiri. Selain itu menjanjikan keamanan, tapi nyatanya ada saja orang yang HP atau BB nya hilang plus kalau ada wanita cantik nan seksi bisa sekalian digerayang-gerayang.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dan diselingi rasa kantuk sampai kepalaku terantuk-antuk ke kaca jendela bus yang sedikit buluk, akhirnya tiba juga waktuku untuk turun. Masih dengan nyawa yang belum terkumpul semua, aku berjalan menyusuri jembatan penyeberangan menuju halte TransJakarta yang berada di tengah-tengah separator jalan.

Di kota besar seperti Jakarta ini, tampak orang-orang selalu terburu-buru seolah dikejar waktu. Waktu sehari semalam selama 24 jam ini rasanya tidak cukup untuk melaksanakan aktivitas mereka. Lalu mau minta sehari berapa jam sih, supaya mereka dapat menyelesaikan pekerjaan plus beristirahat? Seperti yang kualami sehari-hari, perjalanan yang kutempuh ke tempat kerja saja sudah sangat menyita waktu. Belum lagi sampai di kantor dihadapkan pada berbagai masalah yang tak kunjung usai. Grrrhhh… ingin rasanya aku berhenti sejenak, dan beristirahat seraya memandang orang-orang yang sedang berlari seolah dikejar waktu. Tapi bukankah jika seperti itu artinya waktu berhenti? Paling tidak buatku, dan itu artinya… MATI!!! Hiii… ngeri deh membayangkannya.

BRUK!!! Ketika aku berjalan di jembatan penyeberangan, tiba-tiba aku ditabrak oleh seseorang. Ditabrak, ya aku ditabrak, karena saat aku berjalan aku masih memakai kedua mataku untuk melihat jalan dan itu artinya bukan aku yang menabrak. Spontan aku setengah berteriak kepada orang itu, yang sepertinya seorang pria separuh baya, dengan rambut yang sudah mulai memutih, “Hati-hati kalau jalan, Pak! Liat-liat di depannya ada orang atau tidak!”

“I.. Iya… maaf mas, saya gak sengaja.” jawabnya singkat.

Tapi dasar Jakarta, sebuah kota yang keras sehingga menuntut penghuninya untuk selalu waspada karena bahaya akan selalu mengancam di mana saja, bahkan tanpa pandang bulu dan tidak mengenal toleransi. Laki-laki itu pun melanjutkan langkahnya, sementara aku secara insting langsung memeriksa kantong dan tempat HP serta tasku. Dan JRENG!!!! Dompetku sudah tidak ada di tempatnya lagi. Pikiranku langsung tertuju pada laki-laki separuh baya tadi. Pasti dia pencopet. Adrenalinku langsung memuncak, kupikir dia pasti belum jauh. Langsung aku berlari ke arah dia pergi, dan benar saja aku masih bisa melihatnya.

Lima langkah… tiga langkah… satu langkah dan aku langsung menerjang pria itu. Aku memang sengaja tidak berteriak copet, karena khawatir dia nanti malah keburu lari. Alhasil kakiku berhasil mendarat di punggungnya, dan dia pun jatuh tersungkur. Belum sempat dia bicara, langsung kulayangkan sebuah bogem mentah ke arah mulutnya. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Belum puas, kusodok ulu hatinya dengan lututku. Dan terakhir kubenturkan kepalanya ke besi jeruji pembatas jembatan. kini, darah segar kembali meleleh dari pelipisnya.

“Hei, kamu pencopet ya?! Mana dompetku, ayo kembalikan!!!” teriakku seperti orang kesetanan. Aku tak peduli orang-orang yang lewat jembatan semua memandangiku.

“D..d..dompet apa, mas? Saya nggak tahu.” jawabnya terbata-bata.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 18, 2011 in Cerpen, Fiksi

 

Tags: , , , , ,

Aku ingin secangkir kopi dan sebentuk senyummu..

Pagi ini..pagi yang cerah..tidak lagi ada jus apel, jus jeruk, ataupun jus melon. Tidak ingin lagi jus sirsak ataupun jus mangga. Warna warni itu tidak lagi ku perlukan untuk mewarnai hariku. Aku tau, pagi ini tidak lagi menjadi pagiku yang monoton. Ini kali pertama, menyetir sejauh ini, sendiri. Ke tempat dimana temu dan pisah menjadi satu. Mungkin senyumku sudah semanis senyum Colby Calliat, yang setia menyanyikanku seluruh lagunya.

Aku sampai, akhirnya.
Melaju pelan sambil membaca petunjuk jalan, semoga tidak kesasar.
Udaranya sejuk, bersahabat.
Here I am. Tersenyum dan melangkah pasti.
Cocok sudah tempat ini dengan catatan di ponselku.

Dan bahagianya dimengerti sebegininya. Tepat di sebrang sana ada Kedai Kopi. Tempat yang tepat untuk menunggu.
Serasa sudah seabad tidak minum kopi. Memesan kopi favoritku.
Pesananku datang, ku hirup dalam-dalam aroma kopi tersebut. Ah harumnya. Aku yakin kopi ini akan jauh lebih nikmat dari biasanya.
Mengaduk perlahan, memandang pintu masuk sesekali, dan lalu kembali menatap keluar-melalui jendela besar. Aku yakin satu jam sama sekali tidak akan lama. Tepat seperti yang dibilang.

Ini pemandangan yang tidak biasa bagiku. Menatap lalu lalang orang lengkap dengan koper dan ransel. Entah alasan dinas kantor, bersenang-senang, atau apa lagi, yang jelas itu bisa jadi media refreshing, berbahagialah.

Aku terpaku menatap mereka.
Pikiranku berjalan mundur entah kemana.
Seakan tidak percaya kalau aku bisa sejauh ini.
Menjaga rasa dan asa.
Menepis ambigu dan ragu.

“Hai..apa kabar?” Sapaan yang mengagetkanku.
Aku berdiri, tersenyum, dan menyodorkan tangan seraya berkata “never been..”
“I’m back..dan aku ga butuh tangan kecilmu..” bisiknya.
“..better” lanjutku, terdiam, merasakan pelukannya.
“Aku kangen..” ujarnya sambil melepaskan pelukannya untuk kemudian menepuk pipiku dan tersenyum.

Terimakasih atas pagi ini, sempurna, dengan kopi dan juga senyummu.. :)


:: kedai kopi, bandara, menunggu kepulanganmu. ::

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2011 in Fiksi

 

Apa itu salah?

Hari ini cukup melelahkan buat gue. Hari ini full off meeting, meeting, dan meeting. Malam ini untuk melepaskan sedikit kepenatan di kepala gue, gue memutuskan untuk keluar makan malam dengan teman-teman gue di kantor gue terdahulu.

Gue baru aja pindah ke perusahaan tempat gue bekerja saat ini. Baru sekitar 6 bulan lah gue bekerja disini. Biarpun sudah 6 bulan gue di tempat baru, tapi gue masih tetep keep on contact sama teman-teman gue dikantor yang lama. Dan malam ini kami pun janjian ketemuan untuk dinner bareng. Memang letak kantor gue yang lama dengan kantor gue yang baru tidak berjauhan, jadi kami gampang untuk janji ketemuan.

“Gimana kerjaan lo disana Ren, lancar?”

So far masih ok lah…”

“Ada yang ganteng and qualified untuk dijadiin suami gak Ren dikantor lo?”

“Haiyyahh… lo tu ya, ngebet banget sih nyari calon suami?”

“Lah emang lo gak Ren?”
“Ya bukannya gitu, tapi gak segitu HOT-nya kali.”

“Ach… lo mah emang gak jelas Ren, sebenernya lo masih suka sama makhluk yang berjenis kelamin cowok gak sih?”

“Kurang ajar lo, gue masih normal tauk. Pasti lah gue suka sama cowok. Cuma gue gak mau terlalu maksain diri aja.”

“Alessan!! Bilang aja emang lo takut patah hati kan?”

“terserah lo lo pada aja deh”

Entah kenapa malam ini teman-teman gue pada rese’ nanyain masalah cowok. Mulai dari cowok model apa yang gue suka, suka body cowok yang seperti apa, sifat cowok yang gue suka itu yang seperti apa, dan masih buanyak lagi pertanyaan lainnya. Sebenernya apa sih tujuan mereka? Emang sih, diantara teman-teman gue itu, hanya gue yang masih jomblo. Yang lain udah pada married or paling gak udah punya pacar lah. Mungkin teman-teman gue ngeliat bahwa gue cuek untuk urusan ini. Tapi sebenernya, gue juga mikirin masalah ini lah pastinya. Tapi kalau memang gue belum diizinkan sama yang Diatas untuk ngedapetin jodoh gue, gue bisa apa? There’s nothing I can do, right?

Gak sedikit teman-teman yang bilang alasan gue belum punya pasangan sampai detik ini adalah karena gue menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk seorang cowok untuk bisa masuk ke dalam kehidupan gue. Padahal gue sendiri pun gak pernah ngerasa kalau gue mempunyai standar dan kriteria khusus untuk menetapkan calon pasangan hidup gue. Gue juga cukup tahu diri lah dengan modal yang gue miliki. Gue ngerasa bahwa gue nggak pernah kok netepin suatu standar khusus untuk menemukan pasangan hidup gue. Gimana gue bisa netepin standar, wong gue ngerasa nilai jual gue juga gak tinggi-tinggi amat kok.

Tapi, setiap gue menyampaikan hal ini ke teman-teman gue, mereka sering bilang:

“Jangan underestimate sama diri lo kenapa sih Ren.”

“Lo jangan hopeless gitu donk ach.”

“Kenapa lo jadi gak PD-an gitu sih?”

Sebenernya gue bukannya gak PD. Tapi mungkin gue hanya melakukan tindakan preventive untuk mencegah rasa sakit di hati gue. Karena gue ngerasa nilai jual yang ada didiri gue gak tinggi, gue takut kalau makhluk bernama “pria” itu gak akan memilih gue untuk dijadikan sebagai pasangan hidup mereka. So, gue mendingan mengontrol diri gue untuk untuk jangan memiliki perasaan yang terlalu mendalam terhadap seorang pria. Apa itu salah?

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2011 in Uncategorized

 

Tags:

Hening

Sementara aku terdiam terpekur sendiri, ku merasa di sekelilingku bergerak begitu cepat, berputar
Aku hanya bisa memandang sekeliling dengan nanar dengan tatapan yang samar
Ingin rasanya aku ingin ikut bergerak turut berputar
Namun ketika akan kugerakkan raga ini, semua persendianku terasa gemetar
Akhirnya aku malah terkapar
Jiwaku pun merasa sunyi jauh di dasar
 
Waktu, memang sungguh misteri
Sulit untuk dapat dipahami
Apalagi didahului maupun diakali
Ia terus berlari tanpa mau peduli
Kita yang terus mencoba mengikutinya tanpa henti
Akhirnya harus mengakui ialah yang memegang kendali
 
Ketika aku asyik bercengkerama dengan duniaku sendiri
Tanpa disadari ada kelam yang selalu mengintai
Namun aku terlalu acuh untuk peduli
Aku selalu berpikir bahwa itu tidak mungkin terjadi
Paling tidak untuk saat-saat ini
Tapi aku salah, dan itulah yang selalu aku ratapi
 
Jika aku tahu bahwa ini akan terjadi
Maka takkan kusia-siakan kesempatan yang telah diberi
Oleh Zat Maha Pemegang Kendali
Namun aku terlalu bodoh dan terlalu pandir untuk mengerti
Hingga yang tersisa hanyalah sesal dan sesak di hati
Serta jiwa yang terbalut sepi
 
Ingin rasanya aku memutar waktu kembali
Kembali pada saat kau masih di sini
Ketika aku mendengar cerita yang kau bagi
Saat aku masih bisa memandangi
Seraut wajah yang penuh keteguhan hati
Sesosok figur yang selalu aku hormati
 
Jika aku tahu kau akan pergi
Takkan kusia-siakan waktuku untuk sesuatu yang tak berarti
Aku akan selalu berusaha tuk selalu mendampingi
Agar kita dapat saling bercerita dan berbagi
Berbicara dengan lisan dan sepenuh hati
Seolah takkan pernah dapat diakhiri
 
Tapi apalah daya diri ini
Waktu tidak berpihak pada kami
Menyentak dan tanpa basa basi
Dengan sangat tiba-tiba mengoyak hati
Aku yang sedang tidak siap merasa didzolimi
Namun itu semua adalah kehendak Ilahi
 
Aku tak tahu apa yang musti aku lakukan
Hanya berserah kepada Sang Pemegang Kehidupan
Ikhlas hati yang yang mencoba aku kedepankan
Meskipun pilu dan sedih aku rasakan
Aku tak mau itu menjadi beban
Semoga di sana kau menemukan kedamaian
 
Ketika hati di dera kerinduan
Kucoba mengobatinya dengan kenangan
Kenangan saat kita bercerita diselingi gurauan
Terkadang kita hanya diam dan duduk berdampingan
Kini, hanya doa yang dapat kupanjatkan
Semoga senantiasa diberikan kelapangan dan penerangan
 
 
 
 
 
3 Comments

Posted by on August 15, 2011 in Fiksi, Puisi

 

Kotak Kecil

Kutatap kotak kecil diatas meja dikamarku. Sebuah kotak yang awalnya begitu membuatku merasa bahagia. Kotak yang berisikan benda mungil yang menyatakan betapa kau mencintaiku dan ingin serius denganku. Kotak itu berisi cincin yang kau berikan waktu kau melamarku dulu. Hari itu, kusangka semuanya akan berakhir bahagia. Bayanganku tentang indahnya berkeluarga, membesarkan anak, tua bersama, sampai melihat cucu kelak. Semuanya terangkai tanpa cela. Semuanya terlihat begitu indah. Semua itu terlihat begitu nyata. Tapi, semua bayangan itu hancur berkeping tanpa sisa. Saat tiba-tiba kau datang membatalkan semuanya. SEMUANYA. Kau bilang, kau ingin pergi. Kau bilang, rasa itu telah hilang. Kau bilang, kau menemukan yang lebih baik dariku. Hancur hati ini. Dada terasa sesak. Air mata pun mengalir tak tertahankan. Kenapa sekarang? Kenapa kau pergi disaat aku sudah sepenuhnya percaya kepadamu? Kenapa? Lalu apa arti semua kata yang ucapkan saat kau melamarku? Apa itu semua hanya omong kosong? Aku ingin marah. Tapi apa itu akan menyelesaikan masalah? Aku hanya terdiam. Aku jijik melihatmu. Aku muak. Aku kembali menatap kotak kecil itu. Aku tidak boleh tenggelam dalam rasa sakit ini. Aku harus melangkah. Kuambil kotak kecil itu, kubuka sesaat sambil menatap isinya. Kututup rapat, dan kubuang jauh-jauh kotak itu. Dengan harapan, kenangan itu juga akan terbuang bersama kotak itu.

 
1 Comment

Posted by on May 23, 2011 in Uncategorized

 

Nanti?

Iya..
Nanti mungkin semua akan membaik.
Nanti mungkin semua akan sesuai dengan rencana..rencana kita..bukan lagi rencana aku atau rencana kamu.
Nanti mungkin akan ada masa bahwa mengalah itu menjadi cemilan sehari-hari.

“Lima tahun yah? ga apa-apa kan?”
“Dua tahun aja..gimana?”
“Ga sanggup..itu terlalu cepat..”
“Lima tahun kelamaan..aku punya orang sekitar yang bisa berkomentar macam-macam..”
“Tiga tahun?”
“Dua tahun..itu sudah pas..”
“Ng..”
“Atau.. mending.. selesain.. sampe sini ajah..” ujarku terbata.
“Ndie..aku ga bisa putusin sekarang..”
Aku diam..masih merasakan sakit karena kata-kata yang aku ucapkan sendiri.
Kamu diam..entah dengan pikiran apa.
“Ah aku jadi sedih..bahas nanti aja yah..ga apa-apa kan”

Obrolan singkat malam itu, tentang masa depan, tentang pernikahan, dengan kamu yang sudah jauh disana. Jarak sudah mengantarai kita. Iya, jarak yang entah berapa kilo meter, jarak yang bahkan membuat kita harus melintasi pulau. Kepercayaan dan keraguan adalah cemilan kita sehari-hari. Aku percaya bahwa rasa itu ga akan berubah, membiarkannya seujung kuku yang penting tumbuh setiap hari. Namun, aku juga ragu akan kejelasan masa depan kita, iya kita. Kita harus berani menyebut kata-kata itu kan. Tidak lagi aku dan kamu.

Dua, tiga atau lima hanyalah angka-angka. Nominal yang harus kita lalui. Masalah utama kita, menunggu. Mau dua, tiga atau lima pun judulnya tetap sama, menunggu. Asal kamu tau, aku rela menunggu, lama sekalipun, asal aku bisa hidup bahagia sama kamu, terus, sampai kita tua nanti. Tapi daya yang ada tidak sebesar pengharapan aku ke kamu. Aku harus memikirkan orang sekitar, terutama keluargaku. Kamu tau itu kan.

Aku diam. Menatap malam. Membiarkan diri kembali tidak berani merencanakan apapun. Menyeruput kopi hangat yang akan membuat malam ku lebih panjang. Berpikir dan merenung, dan juga mengumpulkan kekuatan untuk..melepaskanmu.

 
5 Comments

Posted by on May 21, 2011 in Fiksi

 

Selingkuh?

“Kapan kamu ke Bandung lagi Rel?”

“Mungkin dua minggu lagi Ga”

“Ooo ya udah, nanti kita jalan lagi ya kalau kamu kesini”

“Ok deh”

“Ya udah, entar kita sambung lagi ya Rel. Aku mau ngelanjutin kerja lagi nih”

“Ok deh Ga”

“Bye”

“Bye”

Rangga, laki-laki yang sedari SMA dulu aku sukai. Entah bagaimana dan kapan, aku lupa tepatnya, tiba-tiba saja aku bertemu lagi dengannya lagi saat aku sudah lulus kuliah dan bekerja. Aku bertemu lagi dengannya saat aku ditugaskan untuk urusan pekerjaan ke Bandung. Cukup kaget aku dibuatnya saat itu. Aku kaget karena bertemu dengan idola dari masa laluku. Tapi entah siapa duluan yang memulai, akhirnya komunikasi kami pun semakin sering. Biar kami berada di dua kota yang berbeda, aku di Jakarta dan dia di Bandung, tapi kami berdua cukup sering untuk mengobrol melalui telepon ataupun hanya sekadar melalui SMS. Awalnya aku senang sekali dengan ini semua. Bagaimana tidak, orang yang sedari dulu aku idolakan, yang hanya bisa kupandang dari jauh saja, sekarang aku bisa berkomunikasi langsung dengannya, mendengar suaranya, bahkan bertemu langsung dengannya saat aku ditugaskan ke Bandung atau mungkin saat dia sedang ditugaskan ke Jakarta. Tapi hubungan apa sebenarnya yang sedang kami jalani saat ini? Apakah ini hanya pertemanan biasa? Atau ini merupakan hubungan penjajakan kearah hubungan asmara? Cara Rangga memperlakukanku cukup spesial. Dia selalu menelpon atau meng-SMS ku setiap hari. Kami saling bertukar cerita hampir setiap malam. Seolah kami tidak ingin kehilangan waktu sedikitpun untuk berbicara satu sama lain. Tapi kalau semua ini bukanlah hubungan pertemanan biasa, berarti aku sudah berselingkuh. Karena sebenarnya saat ini aku sudah mempunyai seorag kekasih. Riyan namanya. Dan hubungan kami sejauh ini baik-baik saja. Tidak ada masalah yang cukup berarti diantara kami berdua. Tapi sampai saat ini memang Riyan tidak pernah tahu bahwa saat ini aku sering kontak dengan pria bernama Rangga. Sebenarnya terbersit sedikit rasa bersalah dalam hati ku karena aku tidak jujur dengan Riyan. Aku juga menikmati hubungan yang sedang aku jalani dengan Rangga saat ini. Tapi aku dan Rangga memang tidak pacaran kok. Kami hanya berkomunikasi lebih sering dari biasanya, that’s all. Apakah kalau sering telepon-teleponan dengan cowok lain selain pacar sendiri bisa disebut selingkuh? Menurutku sih tidak.

Riyan adalah cowok yang nyaris sempurna. Secara fisik dia memiliki penampilan yang menarik. Bentuk tubuhnya yang atletis dengan tinggi badan 175 cm dan berat badan 70 kg, membuat dia terlihat begitu melindungi wanita. Kulitnya sawo matang pada umumnya orang Indonesia. Hidung bangir dan tatapan matanya yang sendu, membuat hampir semua wanita yang melihatnya menoleh kagum walaupun hanya sekilas. Dita dan Rena bilang bahwa aku sangat beruntung memiliki Riyan dalam hidupku. Mereka bilang aku telah mendapatkan anugerah dengan mendapatkan Riyan sebagai kekasih. Aku juga merasa dia teramat sangat baik kok. Dan aku juga menyadari betapa beruntungnya aku memiliki pasangan seperti Riyan. Dia selalu memperlakukan ku seperti layaknya seorang putri. Dia selalu mengantar jemputku ke kantor, dia selalu ada saat aku butuh tempat untuk berbagi, dan dia bersedia menerima aku yang seperti apa adanya. Memang Riyan luar biasa. Tapi, kenapa aku menikmati semua kedekatan yang gak jelas dengan Rangga ini ya?

 
1 Comment

Posted by on April 23, 2011 in Fiksi

 

Sekeping Asa Yang tersisa (1)

“Hei Raka, PR matematika kemarin sudah selesai belum?” Roni bertanya sampai mengagetkan lamunanku. Belum sempat kumenjawab dia sudah mengoceh lagi, “Hei boss, pagi-pagi sudah melamun, cepat tua kau nanti!” katanya sok tahu.

“Siapa juga yang melamun, orang lagi mikir, kok.” jawabku membela diri.

“Mikir apa sih, Ka? Kaya orang tua aja lu.”

“Yah, banyak lah Ron. Misal, kemana aku setelah lulus SMU ini nanti, apakah aku bisa nerusin kuliah atau memilih bekerja saja, sambil membantu orang tuaku.” jawabku pura-pura serius.

“Eh busyet deh!!! Kita baru aja naik kelas 2, Ka. Masuk juga baru dapet seminggu, eh elu malah mikirin mo kuliah kemana. Itu mah entar aja deh, waktu kita udah duduk di kelas 3.” Roni kelihatan malas kalau aku sudah mulai berbicara yang serius. Yah, memang dia berasal dari keluarga mampu. Ayahnya seorang pejabat di sebuah bank swasta. Dia selalu terbiasa dengan hidupnya yang enak, semuanya serba tercukupi, seolah dia tidak perlu lagi berpikir untuk kelangsungan hidup untuk 7 turunannya kelak. Namun, di balik semua itu, dia tidak pernah sombong, di sekolah dia juga bersikap sewajarnya, tidak pernah memperlihatkan bahwa dia dari keluarga yang berada. Dia pun mau bergaul dengan semua orang, termasuk dengan orang yang kurang mampu, seperti aku.

Aku dan Roni seperti yin dan yang, seperti kutub utara dan kutub selatan magnet. Dia dari keluarga berada, sedangkan aku dari keluarga yang, yah, biasa-biasa saja. Ayahku menjadi buruh bangunan dan biasa ikut proyek kemana-mana, dan ibuku biasa membuat kue untuk kemudian dijual ke terminal. Jika sepulang sekolah tidak ada kegiatan, biasanya aku pun ikut membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di sebuah rumah makan. Meskipun status sosial kami sangat berbeda, namun aku dan Roni berteman sangat akrab. Di sekolah kami sering tergabung dalam satu kegiatan yang sama misalnya bulu tangkis dan KIR (kelompok Ilmiah Remaja). Terkadang teman-teman yang lain penasaran, kok aku bisa berteman dekat dengan Roni yang berasal dari keluarga high class. Aku pun tidak tahu jawabnya, sejak kami sama-sama masuk di SMU ini, kami memang langsung merasa cocok dan kompak satu sama lain.

Di saat tertentu, muncul juga sifat-sifat manja dan mau gampangnya saja dari Roni. Contohnya pagi ini, ketika dia malas mengerjakan PR matematika, maka dengan entengnya dia pinjam PR ku untuk disalin. Dia memang tidak suka pelajaran berhitung melainkan lebih suka pelajaran yang berhubungan dengan alam, seperti Biologi. Dia ingin menjadi dokter, katanya.

“Itu cuma salah satunya aja, Ron. Aku masih punya masalah lain yang tidak kalah penting.”

“Apa lagi sih, Ka? Kayanya papaku aja gak sepusing elu gitu deh?”

“Emang apa hubungannya dengan papamu, Ron?” tanyaku heran.

“Ya iyalah, beliau itu kan punya tanggung jawab yang besar, tiap hari yang dilihat cuma angka melulu. Tapi ketika di rumah tetep santai. Gak kaya elu, Ka. Pagi-pagi udah ngelamun terus omongannya kejauhan lagi.”

“Tapi kamu mau tahu masalahku yang lain gak? Aku yakin kamu pasti tertarik.” aku memancing Roni agar dia penasaran.

“Memangnya apa sih? Buruan kalo mau cerita, aku belum selesai nyalin nih.” dia menjawab sambil tangannya sibuk menari menyalin PR.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on April 21, 2011 in Fiksi

 

The Voice

Stop crying silly girl!!!

Suara itu begitu keras terdengar di telingaku. Suara itu seolah hendak memakiku karena melihat keadaaku saat ini.

Aku tidak mampu menhentikan aliran air mata ini. Aku hanya ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku tak mampu menahannya.

“Jangan bodoh! Buat apa kau menangisi itu semua”

Suara itu kembali memaki ku. Ingin rasanya aku membalas semua makian itu. Tapi aku tak mampu. Aku masih terlalu tenggelam dalam rasa sedih yang sedang kurasakan. Sedih karena ditinggalkan. Sedih karena ditipu. Sedih karena di khianati.

Hati ini sakit karena dikhianati oleh orang yang disayangi. Hati ini luka karena ditinggal pergi oleh orang yang dicintai. Hati ini perih karena ditipu oleh orang yang dipercayai.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Apa salahku? Apa kekuranganku?

“Berhenti menyalahkan diri sendiri! Itu nggak akan membuat perubahan”

Suara itu kembali mencaciku.

Argghhh berisik! Kenapa suara itu terus mengikutiku?

Aku berusaha menenangkan diri. Berusaha melihat semuanya dari sisi yang lebih jernih. Mungkin suara itu ada benarnya, buat apa aku terlalu tenggelam dalam perasaan sedih? Aku masih harus melanjutkan hidup. Masih banyak hal lain yang harus aku lakukan. Aku harus kuat. Pasti akan ada kisah indah lain yang menungguku di depan sana. Aku harus yakini itu. Harus!

“Bagus! Lakukanlah yang terbaik untuk hidupmu”

Suara itu pun mulai terdengar tenang. Mungkin suara itu bukan bermaksud memaki, tapi hanya ingin menyadarkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 
Leave a comment

Posted by on April 17, 2011 in Uncategorized

 

Patah

Aku akan menyudahi semuanya. Aku sudah merasa cukup atas hal-hal bernama dulu. Aku sudah yakin untuk tidak lagi mengharapnya. Sudah setahun Aku menyimpan coklat itu. Dengan beragam hal yang mengantarai. Selesai. Sampai sini saja. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2011 in Fiksi, Kisah Rey

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 159 other followers